Review Buku: Parangmaya (Kumpulan Cerpen Aliansyah Jumbawuya & Lis Maulina)

parangmaya

Judul: Parangmaya
Penulis: Aliansyah Jumbawuya & Lis Maulina
Penerbit: Scripta Cendekia
Cetakan: I (2013)
ISBN: 979-17199-3-4
Tebal: iv + 124 halaman

Cerpen Parangmaya yang dipilih menjadi judul buku kumpulan cerpen ini tampak menyajikan banyak sekali konflik.
Konflik pertama ialah keharusan sang tokoh utama, Yusak, pergi ke kota meninggalkan kampung halamannya ‘yang tercinta’ demi memajukan kampungnya tersebut yang selama ini ‘tidak diperhatikan pemerintah’.
Ketika sekolah di kota, konflik muncul lagi. Ia sering diejek udik oleh teman sekolahnya, Ariel. Baca lebih lanjut

Novel Ini Gue Banget!

rumah-debu2Judul: Rumah Debu (novel)
Penulis: Sandi Firly
Penerbit: Tahura Media
Tebal: 156 halaman

Sebenarnya sudah begitu banyak yang menulis resensi mengenai novel ini, Rumah Debu karya Sandi Firly, dengan pembahasannya yang cukup mendalam dan deteil. Maka di sini saya hanya akan mengupasnya dari sudut pandang saya pribadi saja. Baca lebih lanjut

Dwilogi Padang Bulan-nya Andrea Hirata

Unik! Ya, itulah kesan pertama yang muncul ketika melihat buku terbaru karya novelis nomor wahid di Indonesia ini bertengger di rak buku Gramedia. Hal unik itu ialah dua novel (dwilogi) yang digabung dalam satu sampul, namun buku yang kedua posisinya dibalik, sehingga keduanya tampak berbelakangan, dan kedua kovernya jelas terlihat, mungkin untuk lebih menegaskan bahwa sebenarnya buku ini terdiri dari dua novel.
Judul pertama dari dwilogi ini ialah “Padang Bulan” dan yang kedua berjudul “Cinta di Dalam Gelas”. Dwilogi ini merupakan sambungan kisah si Ikal dari buku-buku sebelumnya, yakni tetralogi Laskar Pelangi, dan juga merupakan jawaban bagi pembaca yang mempertanyakan kenapa novelnya Maryamah Karpov hanya berisi secuil tentang “Maryamah Karpov”, karena dalam kedua novelnya ini hampir seluruhnya bercerita tentang kehidupan Maryamah Karpov yang mempunyai nama kecil Enong.
Baca lebih lanjut

Perempuan yang Memburu Hujan

p y m hAir sungai yang surut memperlihatkan kak-kaki kurus rumah kayu. Satu dua ‘kelotok’ bergerak pelan, suara mesinnya yang memekakkan telinga beradu dengan lantunan ayat-ayat suci yang menyeruak dari corong-corong pengeras suara masjid dan surau. Melengkapi parade senja kuning itu, ‘jukung-jukung’ dikayuh menyisir, melewati orang-orang mandi di batang atau mengambil wudhu untuk sembahyang. ‘Jukung-jukung’ itu biasanya baru kembali dari Pasar Terapung di muara Sungai Barito, tempat bertemunya sungai-sungai kecil yang membelah kota Banjarmasin, pun Sungai Martapura yang berada di jantung kota bergelar Kota Seribu Sungai ini— akh…, gelar yang terlalu berlebihan, karena banyak sungai kecil yang tidak lagi mengalir karena tersumbat sampah, ‘ilung’, atau bangunan yang didirikan sesuka-sukanya hingga menutup sungai yang lantas tercekik, lalu mati. (kutipan cerpen ‘Senja Kuning Sungai Martapura’ karya Sandi Firly) Baca lebih lanjut

Jazirah Cinta

jazirah cinta“Jika menganggap kisah-kisah berlatar pesantren cenderung stereotip, bacalah novel ini. Di dalamnya kita akan mendapatkan pelajaran berharga, sekaligus kisah yang menyentuh.”

Demikian endorsement yang diberikan Asma Nadia untuk novel karya Randu Alamsyah yang berjudul Jazirah Cinta ini.
Secara harfiah, “Jazirah” memiliki arti “pulau” atau “daratan”. Sedang yang dimaksud Jazirah Cinta dalam novel ini ialah Kalimantan.
Setting Kalimantan, atau lebih tepatnya Kalimantan Selatan, menjadi nilai plus tersendiri bagi novel ini, yang menggoda kita untuk menikmati tiap halamannya sampai habis. Tidak mengherankan jika sekarang novel ini sudah best seller, cetak ulang, dan sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Malaysia.
Novel dengan tebal 278 halaman yang diterbitkan oleh penerbit ZAMAN ini bercerita tentang seorang santri bernama Syamsu. Kisah silam hidupnya yang kelam membuatnya kaya akan jiwa. Sebagai seorang remaja yang menginjak dewasa, ia pun jatuh cinta, pada dua wanita cantik. Baca lebih lanjut