Lelaki dalam Cermin

Ia ada di sana, bersama bayang-bayang yang membodohinya
Ia menutup rapat wajahnya dengan tas yang kemarin sore ia pakai kuliah
Ia mengisi penuh tangki motornya agar tidak berhenti terlalu cepat
Ia akan menghabiskan waktu liburnya di sebuah kota yang ia pikir akan menenangkannya
Ia mungkin akan terlambat lagi shalat subuh karena tidak ada yang membangunkannya
Ia akan singgah di salah satu warung mie ayam sebelum pulang, sebab itu akan mengingatkannya pada seseorang
Ia cukup bahagia dengan semua yang ia raih, namun itu tetap saja membuatnya kesepian
Ia mengeluarkan telepon genggam dari saku jaketnya, tapi kemudian bingung mau mengirim pesan pendek pada siapa
Ia lelah, dengan semua yang telah ia lakukan, juga pada apa yang harus ia lakukan kemudian
Ia mungkin akan ke kota lain lagi, ke rumah salah satu temannya, meminum segelas sirup dingin yang dihidangkan, lalu pulang, tanpa alasan dan tujuan jelas
Ia pikir semua itu akan melenyapkan lelah dan rasa sepinya, namun ia justru semakin lelah dan kesepian
Ia belum mengerti apa yang kau katakan, tentang kertas usang penuh coretan dari binder yang ia berikan
Ya, ia memang selalu kesulitan mengerti tentangmu
Ia, lelaki itu, sekarang ada di depanku, dalam cermin yang menghadap ke arahku

Mandastana, 26 Desember 2011

Jalan Pulang

cinta bahalap - antologi puisi barito kualaMencakar damai, menyusur kabut;

di sana bersarang mimpi beserta sayap-sayapnya

Terkulai, mengendap, menyublim

Dalam tidur yang sama, dijumpa lagi peradaban beserta langitnya

Dan tanah yang membatu

Di matamu, sebuah sumur dengan kedalaman yang berkilau

Meretas pergumulan panjang, menanak keheningan paragrafmu

Telah usai narasi beku

Menjadi elegi musim kemarau

Menjadi jalan setapak panjang untuk aku pulang

Puntik Dalam, September 2011

 

(Radar Banjarmasin, Minggu, 9 Oktober 2011)

(Cinta Bahalap, 2013)

Khadam (Hendak) Jadi Raja Mamanda

cinta bahalap - antologi puisi barito kuala“Sauuuuudara…!”

biola menyayat

mangkubumi telah berhkianat

apalah makna permadani hijau yang membentang

segala maka harus tepat di sidang

antara harapan pertama kedua juga

baladonmu tak jadi doa

tongkatmu lepas begitu saja

tombakmu tak bisa tusuk apa-apa

hanya ratu dan putri meregang luka

khadam-diang rebah makan tanah

panglima perang tak pernah kalah

ikutlah menari-nyanyi duhai wazir

nasehatmu tadi kata terakhir…

raja kita raja kafir!

“Bujur banar…. Tarusakannnn!”

namun lampu pentas telah mati

Marabahan, Juli 2011

(Radar Banjarmasin, Minggu, 9 Oktober 2011)

(Cinta Bahalap, 2013)

Menunggu Makan Malam

cinta bahalap - antologi puisi barito kualaIzinkan lelah menitik nadinya, petang

Kilatan-kilatan yang mengintai, sewarna darah dan nanah

Uh, lama-lama kita harus meringkuk dalam

Meringis atau merintih

Ini senja yang ringkih

Kenapa kita tidak sepakat saja, tentang masa lalu yang binal

Dalam solilokui

Suara dan gumam saling membunuh

Berlelah-lelah untuk pentas keabadian yang entah

Bergerilya bagi rasa resah

Handil Bakti, 7 Oktober 2011

(Radar Banjarmasin, Minggu, 9 Oktober 2011)

(Cinta Bahalap, 2013)