Iblis Tidur, Kumcer Forum Pena Pesantren Terbaru

Alhamdulillah, terbit lagi buku kumpulan cerpen yang di dalamnya ada cerpenku 🙂
Yang mau mesan, bisa sms ke 085248613969 / 089673157485

iblis tidur - forum pena pesantren

Judul: Iblis Tidur
Kategori: Kumpulan Cerpen
Penulis: Forum Pena Pesantren (Zian Armie Wahyufi, M. Ansyar, Imam Budiman, M. N. A. Badali, M. Ilham, Arief Rahman Heriansyah, A. Kamaluddin, Abdurrahman, M. Syarwani, Zaini Abrar, Farid Ma’ruf, Radiannor)
Penerbit: Mingguraya Press
Tebal: iv + 92 halaman
Ukuran: 13,5 x 20 cm
Harga: Rp 25.000,-

Sinopsis:
Sudah kuputuskan dengan bulat, Jumat pekan ini aku akan ke mesjid dan akan kukorek informasi tentang iblis. Setahuku, iblis itu adalah makhluk yang menyesatkan, dan memunyai tanduk. Entah iblis macam apa yang dimaksud oleh pemuda bertopi bundar itu. Iblis tidur, mungkin.

 

Sumber: http://www.bukumurah.net/2013/01/iblis-tidur.html

Iklan

Jam

Di rumah kami ada sebuah jam dinding. Satu-satunya jam dinding. Jam dinding itu sengaja kugantung di ruang tengah. Alasannya sederhana, agar aku mudah melihatnya setiap kali hilir mudik di dalam rumah. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari jam dinding itu. Biasa-biasa saja. Bentuknya pun seperti jam dinding kebanyakan, bundar dengan warna putih yang dominan kecuali bingkainya yang berwarna merah, dan berdetak tiap detik.
Saat kuperhatikan, sekilas jam itu tampak normal. Dan siapapun yang memerhatikan, pasti juga akan berpikir demikian. Aku sendiri tidak yakin kalau jam itu ternyata terlambat satu jam. Awalnya kusadari ketika azan magrib. Aku sontak terkejut melihat jam itu baru menunjuk pukul setengah enam, padahal biasanya azan magrib berkumandang sekitar pukul setengah tujuh. Karena tak percaya, aku segera memeriksa jam di ponsel. Ternyata memang benar, terlambat satu jam. Baca lebih lanjut

Banjarbaru, Kafe, dan Hujan

hujan di cafe Bagiku, Banjarbaru ialah romansa. Pohon-pohonnya berdaun puisi, dan bunga-bunganya adalah cerita cinta. Hujan masih deras. Ruahnya seperti ikut berjatuhan di dasar hati yang nelangsa. Di sini, aku termangu menunggumu, menatap ke luar jendela pada rumput-rumput yang terendam, ‘puisi-puisi’ kering yang dibawa hanyut air, dan ‘cerita-cerita cinta’ yang kuyup.
Aku memang selalu ke kafe ini bila sore diguyur hujan. Memesan segelas jus nangka, lalu menunggu. Menunggu hujan reda, serta menunggumu.
Aku tahu, kau tidak akan datang. Bukan tersebab hujan ini, tapi kau memang tak pernah lagi kemari. Demikian pula pertemuan kita, tak akan pernah lagi kita teguk bersama. Tapi tahukah kau, duduk di kafe ini ketika hujan, selalu membuatku merasa sedang berbincang denganmu, bercanda apa saja seperti pertemuan terakhir kita dulu? Itulah mengapa setiap hujan bertandang, aku akan berlari-lari kecil ke sini dengan satu tangan memegang payung sedang tangan yang lain sedikit menaikkan rok agar tidak terkena ciprat air. Baca lebih lanjut

Tugas Mengarang

Melodi Cinta Putih Abu-abuIni dia masalahku, aku mendapat tugas mengarang dari guru Bahasa Indonesia, Pak Budi. Besok, hari Senin sudah harus dikumpul. Bila tidak, maka tanpa segan guru galak itu akan memberi hukuman. Hukumannya bisa apa saja, namun satu kesamaannya: memalukan! Pak Budi seperti tak pernah kehabisan ide dalam mencari hukuman yang sungguh memalukan, misalnya menungging di depan pintu kelas selama jam pelajaran beliau dengan mulut dijejali rumput. Benar-benar memalukan! Tapi lihatlah, sudah dua jam aku duduk di hadapan komputer namun tetap saja lembar dalam microsoft word itu masih putih bersih, satu huruf pun tak ada yang bisa kukarang.
Aha, iya! Sebuah ide tiba-tiba mendarat di kepalaku. Jari-jariku pun mulai bermain.

Pada suatu hari |
Baca lebih lanjut

Jalan Pulang

episode lukaSelesai. Semua pelarian itu telah usai. Aku pulang.

Di luar, rintik-rintik hujan kembali menderas. Ricisnya seperti berjatuhan di dasar hati. Sore yang murung. Kaca jendela di sampingku yang mengembun sudah beberapa kali kuusap, sehingga mataku bisa lebih leluasa memandangi sungai kecil di sepanjang sisi kiri jalan yang diguguri tetesan hujan itu.
Aku penumpang terakhir, tersandar di bangku terdepan dalam taksi colt terakhir yang merambat dari terminal Handil Bakti menuju Marabahan. Taksi tidak penuh, dan suasana benar-benar sunyi. Sopir sepertinya enggan menyalakan radio karena suaranya pasti tak akan jelas dalam cuaca seperti ini. Dan penumpang lain, tampaknya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Di sisi kanan jalan kadang terlihat beberapa pengendara sepeda motor yang menepi di warung atau emperan-emperan toko, menunggu hujan yang sepertinya masih lama lagi akan benar-benar teduh.
Akhirnya aku pulang. Hhh… Baca lebih lanjut

Secangkir Kopi Air Mata

kincir angin pun memilihI’ve never felt this way before
everything that i do
reminds me of you
and the clothes you left
they lie on my floor
and they smell just like you
i love the things that you do
Lagu dari Avril Lavigne mengalir lembut. Secangkir kopi hitam masih mengepulkan asap beraroma sedap. Namun sejak tadi kau hanya menatap kopi itu tanpa sedikit pun menyentuhnya. Dapat kudengar desah napasmu kian berat meski tersamar oleh musik sendu yang mengalun lembut dari pojok Mingguraya. Malam belum tua, namun udara Banjarbaru telah menusukkan dinginnya hingga ke balik switer yang kukenakan. Baca lebih lanjut

Gadis Kaca

Love Autumn Diva PressSemua persiapan sudah lengkap. Aku benar-benar siap menemui kekasihku Dina hari ini. Rambut sudah kusisir bergaya belah tengah. Begitu licin, karena sebelumnya kuolesi minyak rambut orang aring yang kuminta dari adik perempuanku. Wajahku sendiri sudah kubersihkan sebersih-bersihnya ketika mandi tadi. Tidak tanggung-tanggung, dengan jeruk nipis! Jenggot dan kumis yang tumbuh tipis itu juga sudah kucukur hati-hati dengan silet sampai tidak ada yang terlihat lagi.
Pakaianku juga tak kalah sempurna. Bajunya ialah baju kaos warna biru bertuliskan “Belabong” yang kubeli minggu lalu di Pasar Jumat dengan uang hasil kerjaku mengangkut rumput-rumput basah di sawah milik Haji Rusman selama sepekan (masih ada sisa uang, dan itu kumasukkan dalam dompet karena uang itu hari ini pasti sangat diperlukan). Wangi toko dari baju tersebut masih jelas tercium, benar-benar masih baru. Bahkan labelnya baru tadi kulepaskan. Sementara celana yang kukenakan adalah celana jeans pemberian Paman Jalal saat lebaran bulan lalu. Celana ini juga baru pertama kali kupakai, karena alasan masih sayang. Walaupun sepertinya celana ini sudah pernah dipakai Paman Jalal beberapa kali, namun pasti tak sampai lama karena kekecilan. Sebagai pelengkap, dengan minyak harum yang biasa kupakai untuk ke Mesjid kuusap-usapkan ke pakaianku. Aroma wangi semerbak menyeruak. Baca lebih lanjut