Secangkir Kopi Air Mata

kincir angin pun memilihI’ve never felt this way before
everything that i do
reminds me of you
and the clothes you left
they lie on my floor
and they smell just like you
i love the things that you do
Lagu dari Avril Lavigne mengalir lembut. Secangkir kopi hitam masih mengepulkan asap beraroma sedap. Namun sejak tadi kau hanya menatap kopi itu tanpa sedikit pun menyentuhnya. Dapat kudengar desah napasmu kian berat meski tersamar oleh musik sendu yang mengalun lembut dari pojok Mingguraya. Malam belum tua, namun udara Banjarbaru telah menusukkan dinginnya hingga ke balik switer yang kukenakan.
Kau kemudian memandangku, tapi segera melempar wajahmu yang kosong ke arah panggung bundar saat aku menatap matamu. Kau merogoh saku jaket dan mengeluarkan sebungkus rokok. Kau ambil sebatang lalu menyalakannya. Seketika asap putih berhamburan dari mulutmu. Suasana Mingguraya masih ramai seperti biasanya, namun terasa ada keheningan yang mengiris dan sunyi di antara kita.
Akh, seharusnya tidak seperti ini! Mestinya ada banyak yang bisa kita ceritakan! Bukankah ini pertemuan pertama kita setelah sekian lama tidak bertemu? Bathinku tersiksa.
“Masih sering ke sini?” tanyamu berbasa-basi tak ingin memandangku berlama-lama. Rokok di sela jarimu kembali kau isap dalam-dalam dan mengepulkan asapnya ke udara.
“Mmm…Tidak. Setelah kau tidak lagi menghubungiku.”
Kekosongan kembali menyelimuti dan kita saling kehabisan kata-kata. Aku tahu, kau tentu sibuk membolak-balik pikiranmu. Demikian pula denganku, serakan kenangan lama seolah berhamburan mengisi ruang kepala. Kenangan yang membuatku terseret ke masa lima tahun silam. Ya, kita sedang diseret oleh perih.
Itu adalah sebuah malam di bulan Ramadhan. Para penggiat sastra berkumpul di tempat ini dalam acara Tadarus Puisi. Aku bukan sastrawan, aku ke sini hanya untuk mengisi malam Minggu yang berasa suntuk.
Dan tiba-tiba kau sudah ada di depanku. Kau minta izin duduk di meja yang sama. Memang, dari keempat kursi di sekeliling meja bundar itu hanya dua yang terisi, satu olehku dan satu lagi kugunakan untuk menaruh tas. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengangguk. Kau pun duduk dan memesan secangkir kopi. Lalu kau memulai basa-basi, kau bertanya apakah aku hanya sendirian. Aku membenarkan kata-katamu. Dan kita pun kemudian berkenalan.
Kau bercerita bahwa kau seorang santri Al Falah Putera. Hal yang cukup ganjil, karena tidak biasanya santri ada di tempat ini, dan penampilanmu tak sedikit pun terkesan nyantri. Saat kutanyakan bukannya santri harusnya tak boleh keluar dari lingkungan pesantren, kau menjelaskan bahwa bulan Ramadhan adalah masa libur, namun kau malas pulang ke kampung halamanmu yang jauh di Grogot sana. Aku bertanya mengapa kau memilih ke tempat ini, kau menjawab karena tertarik dengan acara Tadarus Puisi yang informasinya kau baca di koran. Cerita-cerita lain pun mengalir dari bibirmu yang menghitam karena rokok, termasuk tentang ketertarikanmu pada dunia sastra. Aku kadang harus tersenyum atau mengangguk agar kau merasa dihargai. Satu hal yang pasti, aku tak pernah mengerti tentang puisi.
“O iya, berapa umurmu?” kau bertanya di sela-sela ceritamu.
“Dua tiga,” jawabku singkat.
“Wow! Berati kau lebih tua lima tahun dariku…”
Begitulah awal perkenalan kita. Kau banyak bercerita tentang dirimu, sementara aku hanya menjawab singkat jika kau menanyakan sesuatu. Di ujung ceritamu, kau minta izin pergi sebentar. Hanya sebentar, tekanmu. Aku mempersilakan. Kau buru-buru menghabiskan kopimu, lalu beranjak dari tempat duduk.
Kulihat kau menghampiri salah seorang panitia acara Tadarus Puisi. Tak lama kemudian MC memanggil namamu tepat setelah seorang pembaca puisi menyudahi puisinya. Aku kaget, untuk kemudian tersenyum melihatmu maju ke depan. Kau lalu mengeluarkan selembar kertas dari saku jaketmu. Kau pun mulai berbicara di hadapan mikrofon sambil menatap ke arahku. Jujur, saat itu aku merasakan kau sedang menyihirku dengan tatapanmu.
“Saya akan membacakan puisi berjudul ‘Gadis Senja’ dan puisi ini saya persembahkan untuk perempuan cantik yang duduk di kursi sana,” katamu tenang dengan senyum yang mekar sambil melambaikan tangan ke arahku. Apa boleh buat, situasi seperti itu membuatku tersipu malu. Orang-orang bersorak dan bertepuk tangan sambil menoleh ke arahku. Aku segera menutup wajah dengan kedua belah tangan. Bisa kupastikan wajahku sedang memerah karena malu. Santri sialan!
Malam itu kau juga meminta nomor ponselku. Saat aku juga meminta nomormu, kau menjelaskan bahwa kau tidak punya ponsel, karena di pesantren tidak boleh membawa barang-barang elektronik. Lantas kau berjanji sesegera mungkin akan menghubungiku lewat wartel pesantren.
Kau bertanya bolehkah kita bertemu lagi. Tentu saja, jawabku. Kau lalu menjelaskan tiap bulan santri diberi izin pulang satu hari, saat itulah nanti kita bertemu lagi.
Begitulah selanjutnya. Tiap bulan kita bertemu di tempat ini, setelah sebelumnya kau meneleponku lewat wartel untuk memberitahu satu atau dua hari lagi kau akan keluar pesantren. Kau menyiapkan semuanya dengan baik sehingga kita selalu bisa bertemu. Hingga tanpa kusadari, ada debar-debar aneh yang memikat. Kesuntukan hari-hariku kemudian dipenuhi dengan debar.
Dalam pertemuan rutin itu kau bercerita tentang mengapa kau memilih masuk pesantren. Aku sempat terkejut setelah kau ceritakan bahwa itu adalah sebuah pelarian. Orang tuamu membencimu. Saat aku masih penasaran, dengan cepat kau menceritakan tentang teman-temanmu, tentang asrama yang kaupimpin, tentang anak buahmu yang lucu-lucu, tentang ikut berjejal-jejalannya dirimu demi bisa membaca koran dinding tiap pagi, juga tentang jadwal menu di dapur pesantren. Kau memang menyenangkan dan aku lupa jika sempat penasaran tentang orang tuamu!
Hingga pada suatu hari, kau meneleponku dan memberitahukan satu minggu lagi kelulusan. Katamu, rencananya kau akan pulang ke Grogot dan tidak tahu kapan bisa ke Banjarbaru lagi. Aku bertanya, bisakah kita bertemu sebelum kau pulang. Katamu mungkin tidak bisa, karena orangtuamu datang menjemput.
“Baiklah, aku akan menunggumu kembali,” jawabku cemas dan penuh harap.
“Tenang saja, aku pasti akan ke Banjarbaru lagi. Dengar, aku akan menikahimu.”
Jleg! Seperti kilat, kalimat itu menyambar seluruh urat sarafku. Dengan terbata, kutanyakan apakah itu sekadar gurauan seperti biasanya kau lakukan. Kau bilang itu serius. Kau berjanji.
Beberapa bulan kita berkirim kabar lewat telepon genggam. Tidak ada masalah. Namun kemudian nomor ponselmu tidak bisa lagi dihubungi, komunikasi kita terputus. Kau seperti menghilang. Aku was-was. Aku mulai ragu dengan janjimu, namun karena kau telah mengajari untuk percaya, maka aku pun memercayaimu.
Memang, ada kalanya aku seperti daun kering. Akh, mendadak aku mulai berpuisi. Seperti yang pernah kau bilang, setiap orang akan berpuisi ketika patah hati atau pun sedang rindu. Entahlah. Apakah aku lebih pantas disebut patah hati?
Aku terus melakukan berbagai cara agar bisa menghubungimu, namun hasilnya nihil. Tahun-tahun pun berlalu dengan lamban, seperti musik sendu yang mengalun perlahan. Usiaku kian merangkak, sementara orangtuaku terus mendesakku untuk segera menikah. Orangtua mana yang ingin anaknya menjadi perawan tua? Tapi aku, terus menunggumu, walau aku mulai merasakan semuanya ibarat surat tanpa alamat. Kapan kau akan datang untuk menikahiku?

***
When you walk away
i count the steps that you take
do you see how much i need you right now?
Avril Lavigne masih melantunkan When You’re Gone-nya dengan lembut dari pojok Mingguraya. Malam semakin larut, namun Mingguraya masih bingar dan ramai. Tapi cinta kita tak seperti warung-warung di Mingguraya, selalu ada yang datang setiap kali ada yang pergi meninggalkan. Puluhan malam telah menelikungkan sebuah ketidakpastian. Aku tak bisa seperti pendar cahaya lampu, seperti ketika awal dinyalakan oleh janjimu. Percayalah, aku ingin menangis saat wajahmu mulai gerimis. Mendadak kau cengeng. Kusaput butiran lukamu dengan tisu. Kali ini mata kita benar-benar saling beradu.
Dapat kulihat jelas wajahmu seperti puisi sedih yang menyimpan bait-bait irisan luka. Tanpa kata, di mataku kau menjelma menjadi puisi yang berserak. Tapi kau harus tahu, seperti dulu, aku tak pernah mengerti tentang puisi. Kesedihanmu telah kurayapi di jalan-jalan bisu. Aku ingin menyalahkanmu seperti ketika setiap hari aku menyalahkan diriku sendiri. Matamu kembali pias. Aku gemetar saat kau menggenggam jemariku. Apa kau lupa bahwa dulu kau seorang santri? Tak mungkin ada dua cincin melingkar di kedua belah jari manisku.
Kau memaksa. Jemariku semakin kau genggam kuat. Aku seperti terperangkap bayangan dirimu di masa lalu. Kini aku yang tersedu. Dapat kulihat pula matamu berembun lalu menyungai. Di depanmu, kopi tak lagi mengepulkan asap. Di sudut taman air mancur sana, aku bisa pastikan ada seorang lelaki yang menunggu. Aku telah menceritakan semua kepadanya tentang kau. Malam ini ia mengantarku dengan kekuatan hatinya. Aku hanya perlu duduk, membalas genggamanmu, lalu bergayut di pundakmu untuk pergi ke lapangan Murjani, maka lelaki itu pun juga akan pergi membawa serpihan hatinya.
Seperti pekatnya kopi, kita memang telah mencintai pada titik sempurna. Aku bisa saja memintamu untuk datang ke lelaki di ujung taman air mancur sana. Mengatakan semuanya tentang perasaan kita. Layaknya seorang lelaki, kau bisa menjanjikan bahwa kelak semuanya akan baik-baik saja.
Genggaman tanganmu belum juga lepas. Dadaku berasa penuh sesak. Tak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Aku berdiri dengan kaki yang lemas. Kau pandangi wajahku. Saat genggaman tanganmu tak lagi kuat, aku raih segelas kopimu yang dingin. Mereguk kuat-kuat air matamu yang ada di dalam sana. Kusaput matamu yang sembab. Kudekatkan bibirku ke telingamu. “Biarlah aku mencium dahimu sekali ini saja, untuk terakhir kalinya.”
Aku terus berlari tanpa menoleh saat kau berteriak memanggil namaku. Di sudut taman air mancur, aku berteriak memanggil namanya. Kenapa kau pergi?

When you’re gone
the pieces of my heart are missing you
when you’re gone
the face i came to know is missing too
when you’re gone
the words i need to hear will always get me through the day
and make it ok
i miss you… []

Mandastana, 13 Desember 2011

(Cerpen ini menjadi harapan 3 pada lomba cerpen radar Banjarmasin dan MGR 2011, dibukukan dalam antologi Kincir Angin pun Memilih, juga dimuat di harian Radar Banjarmasin edisi 26 Februari 2012)

Iklan

4 pemikiran pada “Secangkir Kopi Air Mata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s