Teater

teater rufaidahSaya mulai menyukai teater sejak menonton pementasan Chantika oleh grup teater Wasi Putih dengan sutradara Andi Sahludin di Taman Budaya. Teater tersebut diangkat dari cerpen “guru” saya, Harie Insani Putra yang berjudul Chantika dan Bola Matanya. Sumpah, pementasan itu benar-benar memikat hati saya.
Setelahnya saya pun rajin mencari info kapan ada lagi pementasan teater. Meskipun tidak pernah saya temui lagi yang sebagus Chantika, namun menonton pementasan demi pementasan telah membuat saya jatuh cinta dengan teater, dan memutuskan untuk meminangnya. Kebetulan, grup teater kampus saya, Rufaidah, sedang mencari-cari anggota baru. Saya pun bergabung di sana. Ikut latihan rutin tiap minggunya.
Hingga pada sebuah pementasan, yang saya sendiri lupa apa judulnya, grup apa, dan bagaimana alurnya, saya dihubungi seorang kawan di teater Rufaidah, namanya Ratih. Ia mengajak saya ikut pentas bersama grup Sanggar Budaya karena mereka kekurangan pemain untuk peran prajurit. Ratih memang anggota di dua grup teater, dan Sanggar Budaya adalah grup yang lebih dulu ia ikuti. Saya pun keluar dari gedung Balairung Sari, tempat pementasan berlangsung, dan segera berlari ke panggung terbuka, tempat mereka latihan. Karena saya lihat tidak sulit, dan tidak panjang, tawaran itu saya sanggupi. Malam itu juga saya bergabung latihan dengan mereka. Malam besoknya (13 Juli 2011), kami sudah ada di Martapura. Dan itulah pentas pertama saya.
Teater Sanggar Budaya sudah saya lupakan. Saya kembali pada Rufaidah.
Pementasan saya yang berikutnya adalah pada lomba teaterikalisasi puisi. Grup kami dibagi pada dua kelompok. Saya bergabung pada kelompok yang akan membawakan puisi Balada Terbunuhnya Atmo Karpo karya WS Rendra. Saya mendapat tokoh utama, Atmo Karpo. Hasilnya, kami kalah.
Pementasan yang ketiga, saat grup tari kampus kami mengadakan festival tari di taman budaya. Grup teater kami diminta mengisi acara hiburan sebelum para pemenang dibacakan. Kami membawakan teater komedi yang judulnya Pilbakal Kampung Malingkung. Saya lagi-lagi mendapat peran utama, yaitu sebagai Sekdes Amak. Ini pementasan kami yang paling bagus menurut saya.
Malam Minggu tadi, HMJ Keperawatan mengadakan malam pentas seni. Kami diminta tampil. Dan lagi-lagi, saya mendapat peran utama, maklum, masih kekurangan pemain. Kami mementaskan naskah berjudul Luka Anak Batu. Saya tampil sebagai Ibnu Hajar. Pementasan ini kurang memuaskan, karena tempat dan lampu yang kurang mendukung. Itu adalah pementasan keempat saya.
Itu tadi pengalaman saya bermain teater. Saya cukup lelah, karenanya saya putuskan istirahat dalam teater selama satu bulan. O iya, rencanya bulan Februari nanti grup kami tampil lagi dalam acara Aruh Blogger 2012 di Banjarbaru.

Iklan

18 pemikiran pada “Teater

  1. teater…persis aku sudah lama melupakannya, setelah masuk untuk ke sanggar-sanggar teater harus disiksa dulu oleh senior, hingga aku melupakannya dan yaaah apalah itu teater, aku merasa risih kalau teater dari kampusku, tapi melihat dari sisi culunku, di pondok dulu, setiap ada pementasan, aku selalu kebagian peran utama, berbagai lakon dapat kujalankan dengan baik, dan waaw teater di pondok itu adalah tingkatan terbaik menurutku, yaa sudahlah……salam teater….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s