Ternyata Dia…

Buka puasa kemarin luar biasa! Bersama kawan-kawan grup teater kampus Rufaidah, kami buka puasa bersama di Soto Bawah Jembatan. Kata Kak Indra, masih ada uang lebih dari proposal untuk lomba Bakesah Bahasa Banjar kemarin.
Di SMS, katanya waktu ngumpul jam 5.00. Jam 5.30 aku datang, dan ternyata yang lain masih belum datang. Aku menunggu di parkiran. Dua mobil Ranger masuk ke area parkir mobil. Lalu keluarlah beberapa orang laki-laki. Entah mengapa, salah satu dari mereka rasanya aku kenal. Siapa? Aku bertanya-tanya dalam hati. Kakak kelas saat di pondok kah? Ah, sudahlah.
***

Madan datang, syukurlah. Setidaknya aku tidak sendiri lagi. Kami pun berjalan masuk. Di bagian pojok, dekat sungai, sekumpulan laki-laki tadi asik berbincang-bincang. Setelah bertanya pada pelayan, di bangku mana yang dipesan Kak Indra, ternyata di nomor 9 dan 10, tepat di samping sungai.
Sambil berbincang dengan Madan, aku kembali memerhatikan sekumpulan laki-laki tadi. Rupanya mereka membawa dua buah kamera TV! Kuperhatikan dua kamera tersebut, karena biasanya di sana ada lambang stasiun TV-nya. Tapi aku tidak menemukan lambang apa-apa. Lalu mataku fokus pada orang yang dikatakan perasaanku tak asing lagi itu. Cukup gagah, dan wajahnya ganteng. Kulitnya sedikit hitam. Siapa dia???? Satu-satunya tebakanku masih mengatakan bahwa dia mungkin kakak kelas semasa di pondok. Saat acara Dialog Kebangsaan beberapa pekan yang lalu di gedung Graha Abdi Persada, aku juga melihat alumni Pondok Pesantren Al Falah menjadi kameramen. Tidak mustahil orang di dekatku tersebut temannya dan berprofesi yang sama. Ah, sudahlah…
***
Cukup lama menunggu, akhirnya datang juga Kak Indra dan ceweknya. Suasana pun jadi lebih asik. Lalu tiba-tiba Kak Indra berceletuk, “Itu Panji si petualang…,” katanya santai.
Hah!?
Aku tersentak. Benarkah? Pantas… Kuperhatikan lagi orang tadi. Benar, itu host acara Petualangan Panji di Global TV, dia Panji!!!
Setelah itu datang pula teman-teman yang lain. Makin ramai saja, apalagi setelah mereka tahu ada Panji tak jauh dari tempat duduk kami. Jumlahnya sempurna saat waktu buka telah hampir tiba. Ada 11 orang; Kak Indra dan pacarnya, Neli dengan pacarnya, Via dengan pacarnya, Baihaki (atau siapa, kurang tahu aku namanya) dengan pacarnya, dan Chandra (presiden BEM STIKES MB), Madan, dan aku.
Kepada Kak Chandra, kami memohon agar ia mau mengajak si Panji bicara, sehingga kami bisa foto bareng. Demi kredibilitasnya, ia pura-pura menyanggah bahwa itu bukan Panji, cuma mirip.
“Kamera itu pang diapaakan?!” serangku.
“Ah, siapa saja bisa punya kamera…!”
“Halah…”
***
Waktu azan magrib adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu. Seluruh pengunjung Warung Soto Bawah Jembatan (yang penuh itu) histeris menyambutnya. Gegap gempita. Akhirnya, tenggorokanku yang kering sejak pagi bisa juga dibasahi es jeruk. Luar biasa! Nikmat!
Selesai makan, kami kembali ribut membicarakan rencana foto-foto bareng Panji, dan semua harapan tentu saja tertumpuk pada Kak Chandra. Saking asiknya, sampai tak sadar kami bahwa Panji dan rombongannya sudah mau beranjak. Panji sudah memasang sepatu!
Kak Chandra, lagi-lagi demi menjaga kredibilitas dan kehormatannya, akhirnya terpaksa segera mendekati Panji. Kami bersorak. Syukurlah, seorang kru yang ternyata juga orang Banjar, paham maksud kami.
“Handak befoto kah?”
“Iih iih…”
“Ayuha. Lajui…!”
Kami pun berhamburan mendekati si Panji tadi. Bersalaman.
“Kami fans berat Anda mas Panji!” bohong kak Chandra. Aku mau ketawa, meski sebenarnya dari tadi memang sudah tertawa.
“Tengkyu… tengkyu…”
“Habis syuting di mana mas Panji?”
“Di Kuala Barito…,” yang ini jelas lebih membuatku tertawa. Mana ada Kuala Barito, yang ada Barito Kuala.
Semuanya menolak menjadi tukang foto, semuanya ingin difoto. Madan akhirnya mengalah, untuk kemudian bergantian denganku. Sial!
Ada 3 kali berfoto, sayangnya, karena aku yang tukang foto, foto yang ada aku cuma satu. Biarlah, yang penting semua senang, termasuk aku, walau ternyata setelah dilihat ketiga foto tersebut kabur. Maklum, cuma kamera HP, dan waktunya malam hari.
***
Jam 7 tepat, kami pulang. Dalam hati aku berdoa, semoga besok ada lagi yang mengajak buka bersama gratis, dan semoga ada artis lain lagi. Yah, Nikita Willy pun tak apa.


(Yang matanya menyala itu saya)

Iklan

8 pemikiran pada “Ternyata Dia…

  1. Senang sekali dapat berfoto dengan selebriti, ya.
    Bayangkan kalau kita jadi selebritinya dan dikerumuni banyak orang, gimana rasanya ya. Untung kalau ada yang mau berfoto seperti Zian dan temen2nya. 😀

    Alhamdulillah, walau keliatan kabur tapi masih namapk wajahnya.
    kenangan terindah yang tidak didapat di tempat lain. Hmmm… bulan ramadhan yang bernastolgia untuk tahun ke depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s