Jadi Prajurit


“Kita diserang!”
“Kita akan mati konyol!”

“Benar panglima.”
“Panglima, izinkan kami menghadapi mereka di luar! Haram manyarah!”
“Allaaaahu akbar!”

Cuma lima dialog itu sebenarnya yang harus kuhapalkan sebagai prajurit 2 (bahkan dua dialog pertama diteriakkan dari luar panggung), namun bagi orang yang belum pernah sekali-kali tampil di teater sepertiku ini, lima dialog tersebut rasanya seperti jawaban-jawaban yang harus dilontarkan untuk menanggapi pertanyaan malaikat Raqib dan ‘Atid!
Cerita ini harus dimulai dari bergabungnya aku di grup teater Rufaidah, teater kampus yang sama sekali tidak punya gigi apalagi taring. Itu sekitar 2 bulan yang lalu (namun latihannya baru sekali). Salah satu anggota yang juga baru bergabung itu adalah Madan, kakak tingkat, walau aku tak memanggilnya kakak.
Aku juga harus cerita tentang Ratih, anggota yang lebih dulu bergabung daripada aku. Selain di Rufaidah, ia juga (lebih) aktif di teater Sanggar Budaya. Di teater tersebut, rata-rata anggotanya orang-orang profesional semisal Andi Sahludin, Pak Yadi, Fikri, Isur Loweng, dll. Dibina langsung oleh ‘Abah’ Adjim Arijadi, pendiri Taman Budaya yang dijuluki bapak teater Kal Sel.
Kejadiannya terasa begitu mendadak. Malam Selasa lalu, sambil menunggu pementasan teater berjudul Lawan Catur dimainkan, aku, Madan, Kak Indra (ketua Rufaidah), dan Ratih terlibat dalam perbincangan santai. Dengan ‘sambil lewat’, kami meminta Ratih mengusahakan kami supaya bisa bergabung di teater Sanggar Budaya buat menambah pengalaman. Setelah ditanyakan Ratih pada senior di Sanggar Budaya, ternyata hal tersebut mungkin saja, bila sewaktu-waktu Sanggar Budaya kekurangan pemain.
“Sewaktu-waktu” tersebut ternyata malam besoknya, malam Rabu. Mereka kekurangan dua orang untuk menjadi prajurit. Ratih yang punya nomor HP Madan mengajaknya, dan Madan yang punya nomor HP-ku mengajakku. Kebetulan malam Rabu itu aku di Taman Budaya, nonton pementasan teater berjudul Engken Barajut. Malam itu juga aku dan Madan langsung ikut latihan, karena tampilnya malam Kamis, di Martapura.
Melihat dialog yang cuma sedikit itu kupikir mudah saja, tapi ternyata sangat-sangat susah! Teater itu susah! Waktu latihan yang hanya satu malam itu terasa begitu kurang untukku dan juga Madan, namun apa boleh buat. Tantangan sesulit apa pun harus dihadapi bukan?
Aku bersyukur, karena sang sutradara (sekaligus pemain), Bang Andi Sahludin, sudah lebih dulu kukenal, sehingga proses latihan menjadi lebih mudah.
Entah, sampai jam berapa malam Rabu itu latihan, yang jelas paginya aku bangun kesiangan. Jam 9 pagi, kami harus sudah berkumpul di Taman Budaya untuk berkemas dan berangkat ke Martapura.
Seperti yang sudah dijelaskan oleh Bang Andi, di Martapura tersebut tampilnya bukan di panggung dalam ruangan, tetapi di panggung terbuka, sehingga perlu bantuan mic agar suara kedengaran penonton. Sambil bergurau, kukatakan pada Bang Andi saat duduk-dukuk, “Jangankan di panggung terbuka, dalam ruangan gin ulun belum pernah tampil. Hehe…”
Mungkin tak perlu deteil kuceritakan saat tiba di Martapura jam satuan, menata panggung, istirahat di gedung Mahligai Sultan Adam, aku yang pergi ke mesjid tanpa tahu rombongan akan berangkat lagi (ditunggu sangat lama dan nyaris ditinggalkan), makan, kembali ke gedung Mahligai Sultan Adam, ber-make up dan mengenakan kostum prajurit, menghadapi “keborean” Madan yang tak puas-puasnya minta difoto, lalu berangkat lagi ke panggung kira-kita setelah azan Isya.
Nah, inilah ‘malam pertama’ yang dinanti-nantikan itu, jantung berpacu lebih kencang, tubuh gemetaran, dan pikiran kalut, namun hati berusaha menabah-nabahkan.
Sebelum memulai pentas, kami semua naik panggung dan diperkenalkan oleh “Abah”. Hal itu cukup membantuku menghilangkan gugup, “Panggung ternyata bukanlah hal yang menakutkan!”
Pertunjukan pun berlangsung, mengalir, hingga tiba giliran prajurit. Aku sempat kehilangan konsentrasi, karena masih tak bisa percaya bahwa akhirnya aku tampil di pentas bersama para teaterawan kawakan, untunglah hal tersebut tak berlangsung lama. Cukup sukses. Secara keseluruhan juga sukses.

Pun jikalau ada yang kurang sempurna, maka–sebagaimana tradisi kita yang suka mencari kambing hitam–yang patut disalahkan adalah kondisi panggung yang kurang mendukung, seperti suasana sekitar yang hiruk-pikuk mengingat lokasi panggung tersebut adalah tempat pameran tak terkecuali bising dari tongedan yang tak jauh dari panggung, mic yang bergelantungan, mic yang tombol on-nya tiba-tiba kembali ke off, panggung yang sempit, dan sebagainya, dan sebagainya.
Singkatnya, penampilan kami sukses!
***
Di perjalanan pulang, “keborean” Madan tak juga surut. Kali ini ia mengiringi setiap lagu yang mengalun dari speaker bis. Lagu yang harusnya mengantarkan orang-orang kelelahan seperti kami untuk terlelap, malah menjadi begitu kacau dan mengerikan akibat iringan suaranya. Aku yang duduk di sampingnya menutup telinga, berharap ia mengerti. Tapi sedikit pun ia tak mengerti.
“Kada uyuh kah ikam? Yang lain istirahat,” tegurku dengan halus, akhirnya. Namun ternyata tetap saja ia tak paham, bahkan hingga bus sampai di Taman Budaya.
Jam dua malam, aku tiba di rumah kakak di Handil Bakti dengan membawa bertumpuk rasa lelah dan kenangan ‘malam pertama’ yang tak terlupakan. Esok paginya, kembali aku bangun kesiangan.[]

(Tulisan amburadul yang ditulis dengan mata sesekali terpejam menahan kantuk, tidak ada tujuan lain selain sebagai pengingat bahwa pernah ada dua “penyusup” udik di teater Sanggar Budaya. Terimakasih untuk semuanya atas pengalaman berharga ini, dan mohon dimaafkan jika ulun ada kesalahan. Mohon bimbingan buhan pian.)

Iklan

9 pemikiran pada “Jadi Prajurit

  1. beberapa bulan lalu hendak buka ini kayaknya lagi error deh, tapi udah bisa lagi yah.

    silaturahim bentar kesini, lama ndak mampir ke blog ini ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s