Lelah

Tapi kehidupan telah jauh terlupakan
Dan aku bosan mengeja “setidaknya”
Dibawa kendaraan yang berlalu-lalang
Berlalu
Maka aku tergeragap
Kebisuan telah menjadi mimpi bagi kealpaan
Satu klausa yang dijanjikan
Lampu kota menyala
Menembus debu, sebutir debu
Nafas kentut yang diagung-muliakan
Lalu jalanan telah rata beralas aspal
Ah, lelah

29 Mei 2011

(Dimuat di harian Media Kalimantan, edisi Rabu, 15 Juni 2011)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s