Ambigu


Sejak kecil hingga bangku tsanawiyah di pesantren Al Falah, saya selalu beranggapan bahwa Muhammadiyah adalah “agama” yang menyimpang. Mungkin karena begitu kuatnya doktrin tersebut kepada saya. Dan kenyataannya orang-orang di sekitar saya memang selalu menasbihkan hal demikian.
Seiring bertambahnya usia serta ilmu yang diajarkan, pemikiran saya lebih terbuka dan tentunya semakin kritis. Ditambah lagi ketika kelas terakhir saya di pondok Pesantren Al Falah kami diajarkan kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid. Kitab yang mengupas masalah-masalah khilafiah (perbedaaan) dalam fiqih. Setiap masalah dibeberkan dengan objektif, seperti pendapat tiap-tiap imam fiqih beserta dalil dan argumennya, alasan kenapa sampai ulama berbeda pendapat dalam masalah tersebut, dan sebagainya. Satu permasalahan bahkan bisa lebih dari lima perbedaan pendapat, tak terkecuali soal qunut. Dan kesemuanya punya argumen yang kuat.
Dengan demikian, maka kami lebih menghargai akan perbedaan pendapat. Terserah memilih yang mana (saya sendiri lebih cenderung dengan Imam Syafi’i), yang penting tidak saling menyalahkan. Memang itulah sebenarnya tujuan dari kitab tersebut. Semakin banyak tahu, maka semakin jarang menyalahkan. Begitu pula sebaliknya, orang yang sedikit tahu maka akan sering menyalahkan.
Kemudian, setamat dari pesantren saya melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah yang ada di Banjarmasin. Satu pekan sekali ada pelajaran Al Islam Kemuhammadiyahan. Bisa ditebak bagaimana pelajarannya. Namun yang saya tak habis pikir, mengapa begitu mudahnya dosen-dosen itu menyalahkan pendapat lain, menganggap Muhammadiyah-lah yang paling benar. Begitu mudahnya pula mereka bicara ini bid’ah, itu bid’ah (yang tentunya bid’ah dalam pemahaman mereka), tanpa pernah mencoba menghargai pendapat yang berbeda. Juga tak terkecuali dalam masalah qunut.
Maka jika sewaktu kanak-kanak saya melihat orang-orang di sekitar saya menganggap salah Muhammadiyah, sekarang saya justru melihat orang-orang Muhammadiyah itu menyalahkan orang lain. Entahlah, semoga saja penilaian saya ini salah. Karena meski sudah cukup lama menimba, ilmu yang saya punya belumlah ada apa-apanya. Ini hanyalah apa yang saya lihat dan saya rasakan. Saya harap pembaca bisa menyumbangkan pemikirannya dalam tulisan sederhana ini.
Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini. Tidak ada maksud untuk menyalahkan, melainkan agar persatuan ummat Islam semakin kokoh. “Perbedaan di antara ummatku adalah rahmat,” demikian Nabi Muhammad SAW pernah bertutur.

Iklan

2 pemikiran pada “Ambigu

  1. mari menyikapi perbedaan dengan bijak.
    tidak ada baiknya seorang muslim yang mengolok muslim yang lain.
    semoga kita senantiasa dalam jalan yang diridloi ALLAH SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s