Menginjak Tanah Jawa (?)

Di tengah kesibukan mencari bahan makalah buat tuga Biologi Sel tentang kelainan kromosom autosom, kusempatkan memposting lagi. Tapi ‘coretan’ apa lagi ya yang akan kuposting kali ini? Hm…. *mikir*

Aha!
Ini soal sepatu. Beberapa hari sebelum masuk kuliah dulu, aku sudah membeli sepatu (minta belikan dengan orangtua, lebih tepatnya). Putih, warna sepatu itu. Merknya Piero, ya, agak berkelas dikit lah…. He.
Eh, tapi ternyata, begitu sudah masuk kuliah dan peraturan diumumkan, rupanya sepatu wajib sepatu pantofel warna hitam. Maka yang menjadi masalah selanjutnya ialah bagaimana cara memiliki sepatu pantofel, sementara uangku sedikit. Minta dengan orangtuaku (yang sangat pelit itu) jelas tidak mungkin, bukannya dikasih uang, tapi yang ada malah dimarahi! Tak mungkin kubiarkan hal itu menimpaku lagi.
Ya sudahlah, dengan membawa uang seratus ribu yang merupakan jatahku buat dua minggu, aku pergi ke pasar. Gerimis waktu itu. Lama keliling-keliling pasar, belum juga kudapatkan sepatu yang harganya ‘memadai’.
Di ujung keputusasaanku, aku terduduk lemas. Gerimis berubah menjadi hujan. Dalam remang suasana hujan, ekor mataku menangkap sebuah toko sepatu yang agak berantakan. Wajah penjaganya agak layu. Toko itu hampir tutup. (Wah, didramatisir sekali ya?)
Dengan sisa harapanku, kuhampiri toko itu. *slow motion*
“Sepatu bagawi kah?”
“Iih.”
“Tu nah…”
“Berapa itu harganya?”
“Tujuh puluh ribu…”
Hatiku kembali mekar. Tapi tetap saja kutawar harganya. Akhirnya, 65 ribu menjadi harga kesepakatan.
***
Oke, itu kejadian hampir satu bulan yang lalu. Dan kejadian yang baru-baru ini, tepatnya hari Ahad kemarin, kakak iparku berangkat ke Jakarta guna mengikuti pelatihan. Di rumah kakakku yang merupakan tempatku tinggal selama kuliah ini, tidak ada lagi sepatu, kecuali dua pasang sepatuku itu. Dan karena kakak iparku terburu-buru, maka terpaksa dia minjam sepatu pantofelku itu. Singkat cerita, berangkatlah sepatu 60ribuanku itu ke Jakarta, naik pesawat, dan menginjak Bandara Soekarno-Hatta.
Aku sendiri, seumur hidupku tak pernah sekalipun ke pulau Jawa, menginjak tanah jawa yang katanya gemah limpah roh jinawi itu.
Cuma dua hari, kakakku datang. Selama dua hari itu aku kuliah pakai sepatu putih, dan tidak terjadi apa-apa. Datang pula sepatu murahan yang merknya pun aku tak hapal itu dengan membawa tanah Jawa yang menempel di telapaknya. Setelah itu, setiap hari aku menginjak tanah Jawa. Hahaha….

Iklan

11 pemikiran pada “Menginjak Tanah Jawa (?)

  1. Halah, tanah jawa itu kaya, lengkap fasilitasnya, dan tinggi kebudayaannya, tapi percayalah, kalimantan tetap satu-satunya tanah yang membawa kerinduan di hati…

    *putar ulang Sangu Batulak, edisi mellow di perantauan*

  2. emang km asli mana?hahaha..malah udah keduluan sepatu mu tuh yang udah sampe p. jawa. ayoo..injakkan kakimu ke tanah Jawa, tepatnya dijogja, tempat wisata nya oke punya lho. keep bloging =)

  3. Ahaha. . .(hnyr ini kawa sampai tuntung mmbc postingn kam,jd hnyr ini jua tetawanya).. Sepatu pntfel tu masih bs d’smbat brkelas …aku pang sepanjang Stdy Tr ke Kaltim, sandal Nippon ha d’pakai.. (Biar capal tp banyak sejarahnya, sampai ja ke luar Kalsel…haha).

    Kudoakn. .mudahan kam panjang umur, sehat badan, banyak razaki *ky urang mnta sumbangan d’jln rjn..haha* lakas kawa ka Jawa. 😀

  4. Ping balik: Ke Solo, Ikut Asean Blogger Festival Indonesia #1 | Coretan Zian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s