Serunya Menyusuri Sungai Barito dengan Kelotok

Memanfaatkan hari libur, hari Ahad kemarin (10/10/10) sembilan orang mahasiswa semester 1  STIKES MB (Aku, Bani, Muslim, Landra, Ranti, Yana, Yani, Dewi, Mariam) ditambah satu orang (jadinya 10), yaitu kak Farida (kakaknya Yana), dengan 5 buah motor berangkat menuju Marabahan pada jam 10 lewat 10 menit (kebetulan sekali).

Sekitar jam 12 siang, kami tiba di jembatan Rumpiang.

Aku sih biasa saja, tapi mereka yang baru pertama kali melihat jembatan sebesar itu tentu tak mau melewatkannya tanpa foto-foto dulu.

Puas berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan. Dari jembatan Rumpiang tak perlu waktu lama lagi untuk sampai ke pusat kota Marabahan. Sampai sana, setelah minum beberapa teguk, aku menghubungi pemilik kelotok kenalanku yang pada malam harinya sudah kupesan. Yang lain kembali sibuk foto-foto dengan background Sungai Barito.

Motor kami parkir di pelabuhan. Parkir disini dijamin aman, walau ditinggal seharian. Melihat ada banyak cewek cantik, orang-orang di pelabuhan berebut menanyakan tujuan kami.

“Sudah ada nang maambili,” jawabku singkat.

“Siapa?” orang-orang itu makin mendesakku dengan pertanyaan, seolah tak rela bila 6 orang gadis cantik ini menjauh dari hadapan mereka.

“Patuhan jua.”

“Orang mana?” Ih, merepotkan sekali!

“Murung Raya, parak langgar tu nah….”

“Siapa ngarannya?” Belum selesai juga rupanya.

“Kuitannya kawan.”

“Ngaran kawan kam siapa?” Duh, repotnya….

“Sayudi.”

Di dekat pelabuhan, ada hal unik yang kutemukan, yaitu seorang dengan gangguan jiwa (bahasa halus buat orang gila) yang kerjaannya hanya pidato, dengan suara nyaring dan hebatnya, lancar! Kutaksir, barangkali sebelum gilanya beliau adalah seorang anggota dewan (karena bicaranya soal pemerintahan di Marabahan) atau bisa juga seorang penceramah, haha…

Tak selang lama, pemilik kelotok datang. Sepuluh orang udik itu pun dengan hebohnya naik (sebenarnya sih turun) ke atas kelotok. Nah, inilah puncak dari perjalanan ini: menyusuri sungai barito pakai kelotok! Ekspedisi (ceile…) pun dimulai…. Jreng jreng jreng…

Dengan lihainya, sang driver memacu kelotoknya. Kelotok yang kadang limbung ke kiri dan kadang ke kanan, menjadi kehebohan tersendiri bagi 10 orang udik itu.

Tujuan pertama kelotok itu adalah kampung Banua Anyar (bukan Banua Anyar yang di Banjarmasin lo!), tepatnya ke rumah kawanku bernama Farid untuk memenuhi janjiku akan ke rumahnya hari Ahad ini.

Di dalam kelotok, tak ada hal lain yang dilakukan selain teriak-teriak dan tentunya, berfoto ria! Aneh, kok orang-orang jaman sekarang ini (seperti aku tidak hidup di jaman ini saja, haha…) kemana saja selalu ingin dibidik kamera. Tapi tak apa, sebab aku pun suka difoto, haha… Bagiku, asalkan mereka senang, aku pun turut senang, karena sebenarnya ‘misi terselubungku’ mengajak mereka ke kota kabupatenku ini adalah untuk mempromosikan Marabahan sebagai tujuan wisata yang tak kalah eksotis.

Sampai  di rumah temanku si Farid, lagi-lagi mereka berfoto. Ah, rupanya mereka gembira sekali dengan perjalanan ini. Tak lama disana, sekadar menanyakan kabar, kami kembali melanjutkan acara refreshing ini.

Kami kembali naik kelotok. Kelotok berbalik arah, kembali menuju pelabuhan pasar, sampai sana, kelotok berbelok ke arah jembatan Rumpiang.

Banyak hal menarik yang bisa diceritakan yang kami lihat sepanjang ‘perjalanan sungai’ ini. Budaya masyarakat bantaran sungai Barito, keakraban masyarakatnya, saling menyapa, kearifan lokal, pekerjaan penduduk sekitar, kawanan elang yang bermanufer dengan bebas dan indahnya, tambak ikan, perahu tongkang yang membawa gunungan batu bara, ilung / enceng gondok, dan banyak lagi (mengingatkanku pada puisi yang pernah aku tulis dulu: Satu Senja di Tepian Barito).

Setelah kelotok sudah hampir sampai ke jembatan Rumpiang, kepada driver kuminta untuk berputar, kembali ke pelabuhan pasar. Saat itu waktu sudah menujukkan hampir jam 2. Sampai di pelabuhan, dan setelah naik ke pelabuhan, badan rasanya masih bergetar, dan telinga masih terasa berdengung. Efek yang hebat, haha…

Kami lalu mengisi perut di warung dekat pelabuhan. Setelah itu ke depan (atau belakang, entahlah, sebab kedua sisinya sama-sama tampak depan, baiklah begini saja, depan jika dilihat dari Sungai Barito) Kantor Bupati Barito Kuala. O iya, kebetulan sekali, hari itu Pak Hasanuddin Murad, bupati Barito Kuala sedang berulang tahun. Selamat ulang tahun, Pak. Semoga panjang umur dan semoga tambah giat lagi memajukan kabupaten kita yang kelihatannya masih tertinggal ini.

Pemandangan di sana memang cukup bagus. Siring ditata sedemikian rupa agar tampak indah dan cocok buat nongkrong. Di dekatnya ada tempat yang dinamakan Taman Flora dan Fauna, walaupun kalau menurutku lebih tepat diberi nama kurungan 3 ekor kera. Ya, hanya binatang kera yang ada di sana, dan hanya 3 ekor. Tak ada yang lain, kecuali sampah yang berhamburan. Kesan pertama yang tampak ialah: tidak terawat. Memang sayang sekali tempat seperti itu tidak dikelola dengan baik. Tapi sudahlah. Mudahan saja ada pejabat daerah yang membaca postingan ini.

Di tempat itu, lagi dan lagi, kawan-kawan seperjuanganku itu berfoto-foto. Ah, rupanya sekarang ini jalan-jalan memang tak lebih dari urusan foto-foto, urusan kenang-kenangan. Belum sempat menghidupkan motor buat pulang, awan hitam yang dari tadi di atas kepala kami memuntahkan airnya dengan lebat. Untung di sana ada tempat berteduh yang cukup nyaman. Seseorang yang kelihatan tua dengan perahunya tampak di tengah sungai dengan kayuhnya berusaha ke tepi untuk menghindari hujan, menghindari perahunya karam. Hidup memang keras, kawanku.

Syukurlah hujan tak lama, dan kami bisa pulang. Di jembatan Rumpiang kembali singgah. Tentu pembaca sudah bisa menduga apa yang dilakukan mereka. Ya, benar. Foto-foto! Huh, memang merepotkan mengajak orang-orang  yang tak pernah ke Marabahan ini.

Sekitar jam setengah lima sore, kami sampai di habitat kami, Banjarmasin. Setelah mengantar Bani ke kostnya (tadi dia menumpang di motorku), aku pulang. Mengistirahatkan badan yang kelelahan. Memang menyenangkan perjalanan kali ini, terutama karena seseorang yang sangat amat kuharapkan ikut bisa ikut kali ini. 🙂 []

Iklan

20 pemikiran pada “Serunya Menyusuri Sungai Barito dengan Kelotok

  1. KEREEEEEENNNNN BGT, TOP BGT. . Tulisan k 2 yg pling ranty suka stlah obsesi yg m’buat haru, mngkn ru prtma kali da nama rnty d crita kk. He. . Smpe2 ga tau klo ada dosen di dpn, krn ktwa, kena mrah dech. Co da fto bju ungu sech, fto x jelek. He. . Btw, yg d hrapkn ikut, cva tuch? He. .

  2. hohoho ak prnah jua keliling banjar pakai kelotok kya it, tpi lbih banyak, kawan sakalasan…bila pas dibwah jembatan, kuriakan kada karuan….begana an diatas hatapnya…wkwkwkwk tapi manang buhan ikm kira2, gadisnya pinanya tamantap….wkwkwkwk ampun kami bajalbab barataan….

  3. Hmm…10-10-’10…
    Kata ‘udik’, foto”, hujan…mengingatkankku pd teman” yg jauh di mato.
    Dulu. Meski sibuk, banyak tugas…tapi tak pernah kehabisan waktu u/ jalan”.

    Suatu saat nanti…aku jg ingin menyusuri Sungai Barito. Nanti, suatu saat. :p

  4. Soal jalan” pake kelotok, aku pernah kandas di Sungai Kuin, buliknya kesorean, banyunya surut, sampahnya sangkut di baling”, orangnya banyak pulang, parak karam, paksa numpang kelotok yang lewat anggaran kelotoknya bahampul. Kelotok memang mantap!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s