Jika Memang Saya Punya Obsesi

(Tugas mengarang dari kakak kelas saat OPT dengan tema “Obsesiku Masuk Stikes Muhammadiyah Banjarmasin”)

Sejak kecil, saya selalu dibatasi untuk bermimpi. Kedua orang tua saya, hanyalah PNS berpangkat rendah yang tugasnya menjadi guru SD di desa saya, sebuah desa yang teramat kecil dengan populasi penduduk yang juga sangat rendah, yang dari namanya saja sudah tergambar kemelaratannya: Puntik Dalam.
SD tempat kedua orang tua saya mengajar adalah SD satu-satunya di kampung kami. Satu kelas, muridnya berjumlah rata-rata tiga orang. Ah, mungkin lebih meyakinkan bila saya tulis dengan angka saja: 3! Bila beruntung, satu kelas bisa mencapai enam orang. Namun jika tidak, maka murid dan guru akan menjadi layaknya sebuah pertandingan bulu tangkis single.
Selama SD, saya selalu juara 1, namun melihat jumlah murid seperti demikian, tentu saja hal itu bukanlah suatu kebanggaan. Malah mungkin itu hanyalah hiburan. Haha…
Ibu saya, adalah orang yang punya hobi marah. Bukan hal aneh bila saya tahu-tahu dimarahi beliau tanpa ada alasan jelas. Salah atau benar, tetap saja salah dalam pandangan beliau. Sekadar iseng, saya pernah mencoa menghitung berapa kali Ibu marah dalam sehari. Hasilnya luar bisaa, yaitu 134 kali! Hobi Ibu itu punya peran besar dalam tumbuh dan terbentuknya karakter saya. Saya pun selalu santai-santai saja saat dimarahi oleh siapa saja. O iya, kebisaaan ibu yang suka marah (yang tentunya dengan suara keras) itu, juga membuat telinga saya kadang bermasalah. Namun kendati demikian, beliau tetaplah seorang ibu yang punya rasa cinta teramat sangat pada anak-anaknya, walau dengan cara yang menurut saya terkadang salah.
Kalau Ayah saya, lebih ‘parah’ lagi. Beliau memang tidak banyak bicara seperti Ibu, tapi sekali bicara maka bicaranya itu adalah fatwa. Melanggarnya, berarti celaka buat saya. Sindiran beliau amat menyayat. Sedikit saja saya berbuat salah di hadapan beliau, dampaknya bisa berminggu-minggu bagi kelangsungan hidup saya. Sekali Ayah marah, sama seperti 20 kali marahnya Ibu. Selain itu (dan inilah yang paling menonjol dari beliau), Ayah adalah sosok yang amat pelit. Sangat amat pelit.
Al hasil, dengan kondisi seperti itu itu hidup saya terkekang. Harapan saya untuk bisa lebih baik adalah perkara sia-sia. Beginilah akibat dari orang tua yang tidak memahami psikologis. Anda bisa menganalogikannya dengan seorang anak yang sungguh ingin belajar bersepeda, namun tak pernah bisa karena sang ibu tidak mengizinkan , dan karena ayahnya tak mau membelikan sepeda.
Sebagai usaha untuk lepas dari kungkungan keadaan tersebut, saya memutuskan masuk pesantren setamat SD, tepatnya Pondok Pesantren Al Falah di Banjarbaru, yang tentu saja dengan alasan dibuat-buat.
Pondok Pesantren Al Falah mengharuskan masa belajar 7 tahun untuk bisa tamat. Empat tahun pertama di sana, saya tetap ranking 1. Dan kali ini tentunya (menurut saya) membanggakan. Jumlah santri dalam satu kelas sepuluh kali lipat dari jumlah murid waktu SD dulu. Sejak itu saja juga semakin percaya bahwa sebenarnya saya punya otak yang lumayan, hanya saja kedua orang tua saya bukanlah orang yang pandai menyikapinya. Beginilah jawaban orang tua saya ketika saya beritahu bahwa saya ranking 1 lagi: “Oh…”
Ya, cuma begitu, sejak dulu. Kadang saya membayangkan bagaimana orang tua lain yang mendengar kabar tersebut dari anak mereka: “O ya?! Syukur Alhamdulillah… alangkah pintarnya kamu anakku…. Nanti akan Ibu belikan komputer…”
Dan saya pun kadang tertawa getir saat membayangkannya, juga membandingkannya.
Empat tahun mondok di pesantren, juga telah menempa saya menjadi lebih dewasa, menjadi lebih memahami makna kehidupan (mungkin), termasuk esensi sebuah prestasi yang sebenarnya. Jika dulu saya berpikir bahwa prestasi adalah juara kelas atau memenangkan sebuah lomba, maka sekarang saya memaknainya lebih dari itu. Prestasi bagi saya adalah ketika kita berhasil memberikan kebaikan kepada orang lain.
Tiga tahun berikutnya, nama saya sudah jarang muncul di deretan 5 besar. Bukan, bukan karena saya tidak suka belajara lagi, tapi saya punya alasan tersendiri yang tidak akan cukup waktu untukmenceritakannya di sini.
Saya punya prestasi lain, prestasi yang jauh lebih besar dari hanya juara kelas atau menang lomba tingkat nasional. Tapi sekali lagi, tak akan cukup waktu untuk menceritakannya di sini.
Setelah tujuh tahun berprofesi sebagai santri, saya pun tamat. UN saya juga lulus. Saya mendapat dua ijazah, yaitu ijazah dari Pondok Pesantren Al Falah, dan ijazah reguler, atau ijazah MA. Kembali saya berkumpul keluarga, kembali saya pada desa Puntik Dalam yang kini sudah sedikit maju dari yang tujuh tahun silam dan yang terpenting, murid SD-nya kini dalam satu kelas sudah ada yang mencapai 10 orang (luar bisaa bukan?).
Ibu masih tetap marah-marah seperti dulu. Ayah juga tetap pelit, walaupun golongan PNS-nya sekarang sudah sedikit naik. Tapi sekarang Ibu juga ikut-ikutan pelit, dan Ayah semakin sering marah-marah. Dan saya, kembali mendekam dalam kurungan keadaan seperti dulu, seperti anak kecil yang tak pernah bisa bersepeda lantaran sang ibu tidak mengizinkan, dan sang ayah lebih sayang pada duitnya.
***
Tujuh tahun mempelajari kitab-kitab berbahasa Arab tanpa baris atas dasar pelarian membuat saya cukup bosan. Saya memutuskan mengambil kuliah dengan jurusan non agama. Memang, mulanya saya punya rencana kuliah di Jawa (didengar saja keren bukan?), tapi seperti yang sudah Anda bayangkan, hal itu mustahil.
Dan akhirnya saya mendaftar di UNLAM jurusan Administrasi Negara dan di STIKES Muhammadiyah ini, lebih tepatnya di jurusan S1 Keperawatan. Mengapa? Karena cuma memang jurusan itu yang layak untuk orang ‘selemah’ saya. Keduanya alhamdulillah lulus. STIKES Muhammadiyah kemudian menjadi pilihan, karena pekerjaan yang lebih terjamin didapat.
Ayah saya semakin sinis, sebab beliau tahu STIKES akan banyak menguras dan menggerogoti gaji perbulannya yang penuh potongan. Meski kedua orang tua saya sudah terlalu sering menyinggung-nyinggung soal banyaknya uang yang akan keluar, STIKES tetap pilihan saya. Untuk kali ini saja saya tak mau berdamai dengan nasib.
Bila memang Anda ingin tahu apa obsesi saya kuliah di STIKES Muhammadiyah ini, dan jika memang saya punya obsesi, maka obsesi itu tak lain adalah untuk punya pekerjaan, punya penghasilan (walau tak terlalu banyak) dan mampu menghidupi anak-istri saya kelak. Setidaknya mampu memberikan apa yang mereka nanti butuhkan tanpa pelit dan tanpa perlu marah-marah. Satu yang saya yakini saat ini, yaitu Tuhan pasti punya rencana besar untuk orang yang punya masalah besar.[]

Iklan

18 pemikiran pada “Jika Memang Saya Punya Obsesi

  1. Hoho. . .bukan masalah murah or kadanya.
    Q ol d’wrnet Mtp,hbs tu hndk b’angkut k’Bjm (jrak wrnt wn rmh kd parak),brang” blm Q simpuni..jd b’gasakan..haha(crht colongan). .

    Tuntung dah Q mmbacanya nah. . .
    Kalau itu kisah nyata, mk aQ cukup terharu…sebab kehidupanku tdk lbh menyenangkan dari itu. .sebab alur hidupku jauh lebih rumit dari itu. .*mari tertawa*hahahaa,

  2. S’ju2r uln sdih dngar x, smpe netes air mata. . Krna crita kta hmpir sma, tnggapan org tua akn juara yg uln raih slama ini jg biasa, mngkn cuma prekonomian yg m’bedakn, mski kd pnting. Keep holding on! Berusaha, prcya slalu dpt jd yg trbæk.

    • waduh waduh… sampai segitunya… saya yang nulis aja biasa-biasa aja kok…
      kayanya jauh beda, sebab masih banyak yang kamu belum tahu. 🙂

  3. karakter orang tua memang beda” dalam mendidik anak-anaknya.
    dijadiin pelajaran aza, biar nnti klw udah jd seorang ayah/ibu, bisa bersikap lbh adil dan bisa menyenangkan hati anak :d
    Allah pasti mempunyai rencana untuk setiap mahluknya. SEMANGAAAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s