Selamat Tinggal Al Falah

Tujuh tahun sudah, kujalani kehidupanku sebagai santri Pondok Pesantren Al Falah. Mengaji Kitab Kuning, shalat berjamaah, disanksi, kehabisan air, makan di kantin, bahapakan, menjarah kiriman milik teman, sandal hilang. Ah, kini selesai sudah semua itu. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat, dan hidup dikurung selama tujuh tahun bukanlah hal mudah. Aku ingat, di tahun pertamaku di Al Falah, teman satu angkatan ada 300 orang lebih, dan sekarang yang tertinggal sampai kelas 3 Aliyah cuma 104 orang. Ke mana yang 200 orang lagi?
Tujuh tahun juga telah memberiku banyak pelajaran hidup, salah satunya tentang arti prestasi sesungguhnya. Setamat dari SD aku langsung masuk Al Falah. Seperti yang lainnya, aku menjadi santri baru dan berada di kelas Tajhizi (persiapan) selama satu tahun. Aku ditempatkan di kelas Tajhizi D. Lumayan tinggi, karena seluruhnya ada 10 kelas, yaitu sampai Tajhizi J. Peletakkan kelas didasarkan pada kepintaran pada saat tes masuk. Yang kelas Tajhizi A berarti adalah orang-orang yang pintar, menurut Ustadz yang mentes.
Satu semester, berkat nilaiku yang cukup bagus (aku peringkat 2), Ustadz memindahku ke Tajhizi B. Di sana, orang-orang pintar terkumpul, tentunya di Tajhizi A lebih lagi. Banyak yang semula di Tajhizi A dan B pindah ke Tajhizi bawah. Banyak pula yang berasal dari Tajhizi bawah pindah ke Tajhizi atas. Akhir semester, aku memperoleh peringkat 4.
Naik kemudian ke kelas 1 Tsanawiyah. Aku ditempatkan di kelas 1 Tsanawiyah B. Mulai di sini, kelas tidak lagi berdasar kepintaran. Ulangan semester pertama di kelas 1 Tsanawiyah cukup heboh: soal bocor! Malam-malam di hari ulangan mushalla ramai dengan berbagi bocoran. Hebat juga para santri Al Falah ini, mereka berhasil mengambil soal-soal yang diletakkan di ruangan khusus, yah, walaupun akhirnya ketahuan juga. Tapi karena sudah terlanjur, tidak dilakukan ulangan ulang. Dan mereka yang sebenarnya tidak pernah belajar malah mendapat ranking, dan aku jatuh ke urutan 11. Mulai kelas 1 Tsanawiyah ini pula kami diperkenankan masuk Mts. Al Falah Putera yang diselenggarakan siang sampai sore.
Semester 2, ustadz lebih waspada lagi. Soal aman. Aku melesat ke peringkat 1. Dengan modal rajin belajar jauh hari sebelum ulangan dilaksanakan serta berpegang teguh pada kejujuran, sampai kelas 3 Tsanawiyah aku terus mengemban ranking 1 di kelasku.
Ada kejadian besar di kelas 3 tsanawiyah: aku opname di Rumah Sakit umum Banjarbaru. Penyebabnya ialah penyakit hernia. Aku dioperasi. Dan itu terjadi saat ulangan semester pertama, satu hari sebelum ulangan selesai. Jadinya aku tidak bisa mengikuti ulangan sebanyak 2 mata pelajaran. Anehnya, tidak ada ulangan menyusul untukku. Dua mata pelajaran yang tidak kuikuti tersebut diberi nilai 7.
Hal lain yang tak bisa kulupakan saat kelas 3 Tsanawiyah ini ialah aku berhasil mendirikan sebuah organisasi kepenulisan bernama Forum Pena Pesantren (FPP) yang mana organisasi tersebut sekarang sudah maju dengan pesat.
Selesai kelas 3 Tsanawiyah, aku sebenarnya sudah mantap untuk melanjutkan sekolah di luar. Rencananya di MAN 2 Banjarmasin. Tapi mungkin memang sudah takdirnya aku sekolah di Al Falah sampai tamat. Entah mengapa, aku tidak jadi pindah. Aku pun melanjutkan ke jenjang aliyah di pondok pesantren Al Falah. Sejak ini, semangatku untuk mempelajari kitab kuning sudah mulai luntur. Belum lagi candu internet yang menghinggapiku (aku lagi asyik-asyiknya di Friendster dan aku juga baru jadi blogger). Di kelas Aliyah ini juga aku mengenal Ustadz Sailillah Lc. Beliau ustadz yang, menurutku, sangat pintar. Hampir semua persoalan agama beliau tahu.
Aku juga masuk MA Al Falah Putera siang harinya. MA kami ini setiap harinya sepi. Yang masuk paling banyak 5 orang, 6 jika ditambah dengan gurunya. Gurunya pun tidak lengkap, ada pelajaran yang tidak ada gurunya. Yang ada pun kadang tidak masuk. Namun di MA inilah aku lebih mengerti dengan arti semangat, perjuangan dan pengabdian. Di sini aku jadi lebih mengenal dengan Pak Mustofa yang rajinnya luar biasa. Sebelum bel berbunyi, beliau sudah nongkrong di kantor. “Mulailah dari diri sendiri,” nasehat beliau. Kami menyayangi beliau, bahkan mungkin lebih daripada kepada ustadz-ustadz kami.
Kelas satu aliyah, aku masih bisa mempertahankan peringkatku. Padahal sebenarnya aku sudah pesimis, melihat cara menjawab teman-temanku saat ulangan yang hampir semuanya tidak jujur. Ada yang membuka catatan, mencatat ringkasan di meja dan dinding, mencontek, dsb. Kalau aku juga seperti mereka, rasanya sia-sia kejujuran yang sudah kupertahankan selama ini.
Aku sungguh beruntung saat naik ke kelas 2 Aliyah, tepatnya 2 Aliyah B. Keberuntunganku itu adalah wali kelas yang amat baik. Selalu memberi izin bila aku mau pulang keluar pondok atau pulang ke rumah, apapun alasannya (Santri Al Falah tidak boleh keluar dari pondok jika tidak mendapat izin dari wali kelas, dengan tanda tangan beliau di kartu khusus). Dengan itu ‘nafsu’ ngeblogku terpuaskan (aku sudah tidak doyan lagi dengan friendster). Saat kelas dua aliyah ini pula aku bisa bergabung di komunitas blogger Kalimantan Selatan: Kayuh Baimbai.
Mungkin pikiranku yang sudah ‘dirasuki’ oleh blog inilah yang mengakibatkan nilaiku jatuh melayang di kelas 2 aliyah ini. Dan karena aku sudah bertekad untuk menjawab soal ulangan dengan jujur, bagaimanapun keadaannya, maka nilaiku pun merosot. Aku bahkan tak masuk 10 besar. Semester 2 lebih jatuh lagi.
Di kelas 2 aliyah ini pula kami diangkat menjadi anggota IKPPF (semacam OSIS). Selain itu kami juga menjadi ketua asrama. Aku diangkat sebagai ketua asrama Babussalam. Asrama paling muka jika kau memasuki wilayah Al Falah Putera. Bersebelahan dengan kantro. Anak buahku santri kelas 2 Tsanawiyah, jadinya tidak terlalu sulit mengatur. Aku sangat akrab dengan mereka. Mereka juga sangat menghormatiku sebagai ketua asrama.
Kelas 3 aliyah, bencana besar menimpaku. Jika di kelas sebelumnya wali kelasku ialah wali kelas yang paling baik (dari segi memberi izin), maka di kelas ini justru sebaliknya. Aku bahkan sampai sekarang tak berani minta izin, kecuali izin bulanan yang memang sudah semestinya. Kartu izinku bersih. Sangat jauh berbeda dengan di kelas 2 Aliyah.
Nilaiku pun tak ubahnya seperti di kelas sebelumnya. Meski begitu, aku merasa bangga dan cukup puas, karena walaupun semua temanku menjawab soal dengan cara curang, aku masih mampu mempertahankan kejujuran. Inilah yang kurasakan sebagai prestasiku. Aku juga berhasil memajukan FPP, dengan umur yang sangat singkat, FPP jauh di atas daripada organisasi lain. Aku juga masih menjadi ketua asrama, namun anak buahku sudah berganti. Kini para santri baru (kelas tajhizi) yang menempatinya. Anak buahku yang sudah pindah itu juga sering mengunjungiku. Mereka sungguh akrab denganku. Sejak jadi ketua asrama Babussalam, asrama tersebut menjadi lebih rapi dan bersih. Peraturan selalu jalan. Temanku satu angkatan yang diakui paling pintar, atau lebih tepatnya paling genius di antara kami, asramanya amburadul Anak buah tak pernah dia urus, tak mau tahu, tidak peduli. Mereka pun tak ada yang menghormatinya sebagai ketua asrama. Bahkan banyak anak buahnya yang kesal. Sedang aku, anak buahku selalu menghormatiku. Kami sering bercanda bersama, bernyanyi bersama dsb. Inilah yang juga prestasi bagiku, yang patut kubanggakan. Prestasi dalam kehidupan, bukan di buku rapot.
*****
Ah, begitu banyak kenangan yang tak mungkin bisa kulupakan. Tujuh tahun seperti sebuah kitab tebal yang terbuka. Masih banyak sebenarnya yang ingin kuceritakan, seperti saat santri Al Falah mendemo ustadz mereka, saat ada maling ketahuan, saat staf IKPPF menyiksa bawahan, namun tak mungkin. Postingan ini sudah terlalu panjang. Mungkin di lain waktu saja.
Perpisahan tanggal 6 Juni. Saat itulah ijazah dibagi. Aku masih belum tahu bagaimana nilaiku di semester paling akhir ini. Walalu tak mungkin, tapi semoga saja nilaiku lumayan tinggi. Apa yang tak mungkin bagi Allah?
Selamat tinggal Al Falah. Selamat tinggal kawan-kawanku, para ustadz, mudir (pengasuh) Al Falah, nini dapur, paman satpam, Sugi, Wawan, acil kantin, Pitung, Habib Abdullah, Pak Mus, selamat tinggal semuanya….

Iklan

25 pemikiran pada “Selamat Tinggal Al Falah

  1. dengan berakhirnya pendidikan yang kau jalani, tibalah saatnya dikau mengamalkan setiap apa-apa yang kau pelajari sobat…selamat berjuang Brotha 😀

    salam hangat

  2. Assalamu alaikum w.w. !
    Sebenarnya aku ingin kenal dengan Zian X-Fly…heboh juga pendidikan di ponpes al Falah Banjarbaru, aku sebagai orang luar cukup kagum dengan kedisiplinan santri, tentu saja semua untuk bekal menapaki kehidupan di dunia luar ini. yang paling penting bagaimana menerapkan ilmu (agama islam dan sosial kemasyarakatan) yang diperoleh dipraktikkan di kehidupan nyata………. salam kenal Zian X-Flay.
    Juniansyah. (junipthamb@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s