Malam Pertama Ramadhan di Kampungku

Malam pertama bulan Ramadhan ini aku lebih memilih shalat tarawih di rumah daripada di langgar yang ada di kampungku. Bukan, bukannya aku tak ingin bersosialisasi dengan masyarakat, atau karena takut jika disuruh menjadi imam (aku punya cara ampuh untuk menolaknya). Tapi karena aku sudah bisa membayangkan bagaimana keadaan langgar malam ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, jamaah yang penuh sampai-sampai tidak muat, jamaah perempuan yang lebih banyak dari jamaah laki-laki (mungkin perempuan-perempuan itu tidak tahu bahwa perempuan lebih afdol shalat di rumah, di kamarnya, atau karena memang mau mencari gebetan), anak-anak yang ribut, lantai yang kotor, pekikan shalawat yang amburadul, remaja-remaja pengangguran yang nongkrong di pinggir jalan(berharap kalau-kalau menemukan jodohnya di sana), serta muda-mudi yang mojok di jembatan dekat langgar.
Ya, begitulah keadaan di kampungku, mungkin begitu pula di kampung lain. Momen tarawih malah dijadikan ajang maksiat seperti yang terakhir kusebutkan.
Sekarang ini, nuansa keislaman memang semakin luntur. Pantas saja Islam tak pernah bisa maju. Sebab para pemeluknya sudah tidak lagi peduli dengan ajarannya. Mereka lebih mementingkan dirinya sendiri daripada agamanya.
Hah, sepertinya semakin panjang postingan ini malah semakin ngelantur dan tak fokus.
Pokoknya, selamat menjalankan ibadah di bulan penuh rahmat ini.
Mungkin aku ikut berjamaah di langgar nanti saja, saat malam sepuluh ke atas, saat jamaah mulai hanya tinggal satu saf.

Iklan

20 pemikiran pada “Malam Pertama Ramadhan di Kampungku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s