Kada Baduit


Hari ini kuanggap hari yang sial. Cerita singkatnya, aku mau ke Water Boom karena Komunitas Blogger Kayuh Baimbai yang aku ikuti akan mengadakan pertandingan futsal dengan Kaskuser Regional Kal Sel pada jam 6 sore. Masuk ke water Boom, tentu perlu uang yang tak sedikit. Maka untuk itu, kubawalah uang untuk daftar ulang 50 ribu untuk manambah uang yang diberikan orang tuaku. Orang tuaku memberiku uang 50 ribu, jadinya 100 ribu rupiah yang kubawa.
Dan sore tadi pun aku berangkat dari rumahku yang ada di Marabahan.
Di jalan tembus menuju Pal 6, saat aku mau membelok, aku menyerempet motor Mio yang dikendarai seorang wanita muda, seorang wanita tua, dan seorang bocah perempuan. Mereka jatuh, begitu pula aku. Aku tak apa, namun seorang wanita tua itulah yang bermasalah. Tangan dan kaki beliau kesakitan. Sebagai seorang santri, tak mungkin aku kabur. Seketika, orang ramai mengerumuni kami.
Syukurlah, di dekat lokasi kesialan itu ada tukang pijat. Maka dibawalah si perempuan tua ke sana. Sang perempuan muda, sambil menggendong anaknya yang histeris, menelpon ke sana sini.
Rupanya mereka bukan orang jauh, jadi tak lama para keluarga ‘korban’ segera berdatangan ke rumah tukang pijat tersebut. Aku gugup. Luar biasa gugup. Apalagi saat datang seorang keluarga yang tampangnya tak berbeda dengan preman.
“Mana orang yang menabraknya?!!!”
Aku semakin gugup. Namun kucoba untuk sekuat mungkin tenang.
“Ni urangnya,” kata salah seorang keluarga lagi yang datang lebih awal.
“Laju kah ikam tadi?” tanyanya padaku”
“Kada. Ulun tadi handak babelok, tapi kada ingat meresteng. Slah ulun jua pang.”
Aku tahu, dengan mengakui kesalahan dan berkata sejujur-jujurnya serta selembut-lembutnya akan memperlancar masalah.
Keluarga yang lain pun mencoba menenangkan si tampang preman tersebut.
Aku juga ditenangkan keluarga yang lain, sebab gugupku sudah luar biasa.
“Ikam mulai mana?” tanya salah seorang keluarga.
“Ulun mulai Marabahan, handak mandatangi kawan.”
“Ikam bagawi kah?” Hah, memangnya aku tampak seperti orang yang sudah kerja ya?
“Kada, ulun masih sakulah.”
“Di mana sakulah?”
“Di pesantren, Al Falah. Di Banjanrbaru.”
“Oooh… Berapa tahun sudah?”
“Enam tahun sudah”
Kemudian, datang si suami perempuan muda. Potongan dan bicaranya santai saja. Dia bicara lembut denganku. Lalu kujelaskan lagi semuanya.
Si suami tadi pun akhirnya “cuma” minta ganti kerugian atas kerusakan yang menimpa Mio-nya. Juga minta untuk biaya pijat Ibunya.
Kujelaskan pula bagaimana keadaan uangku saat ini, termasuk bahwa uang lima puluh ribu rupiah itu sebenarnya uang untuk daftar ulang.
Dia berpikir. Hingga akhirnya mengambil keputusan,
“Kaini haja gin mun kaitu, ikam bayari yang ikam kawa ja dulu, kaina isuk kah ikam ke rumahku malunasi. Jadi ikam ke rumahku dahulu wayahini, nyaman ikam tahu rumahku. Tapi SIM lawan STNK ikam kutahan dulu gasan jaminan.”
“Nah, kayapa yu, ngalih ulun manjurung SIM lawan STNK, kalu pina apa-apa di jalan.”
“Ya sudah, kita ka rumahku ja dulu, di Sungai Lulut, nyaman bapandir. Di sini ngalih.”
“Ayuha, tasarah pian haja, ulun jua pang yang salah.”
Keluarga yang lain tersenyum. Mungkin dalam hatinya: Wah, bagus urang ni.
Aku pun lalu bersama sang suami tadi ke rumahnya. Di rumah beliau, kucoba menghubungi Kakakku. Syukur Ayah dan ibuku sedang pulang kampung ke Kandangan, jadinya aku tak akan dimarahi untuk sementara waktu. Namun sialnya, Kakakku tak bisa dihubungi.
Wah, sepertinya sudah terlalu panjang. Baiklah, akhirnya, beliau bersedia tidak menahan SIM dan STNK-ku, sebab beliau percaya denganku, dengan status santriku. Kuserahkan pada beliau uang 50 ribu.
“Isuk kah ikam ka sini, kaina kita badua ja nukar spare part-nya, nyaman ikam tahu harganya. Aku indah malarangi ikam.”
Begitulah, aku pun pulang. Singgah dulu di warnet memposting ini.
Kusarankan padamu kawan, hati-hatilah bila berkendaraan. Dan bertampang polos lah bila orang mau marah denganmu.

Iklan

26 pemikiran pada “Kada Baduit

  1. Kecelakaan memang bisa terjadi kapan saja. Biarpun sudah berhati2 tapi kadang memang sudah harus kejadian ya kejadianlah.
    Hikmahnya tentu, harus berhati2 lagi lain kali ya. Dan jangan lupa bawa uang serep di saku untuk cadangan juga 😀

  2. @ udin gambut
    Alhamdulillah, sekarang masalahnya sudah beres.
    @ yoesz
    Yap, betul sekali.
    @ ayoe
    Terus pang kayapa? Kada disasahi urang lah?
    @ ewin
    haha, napa baisi bini!

  3. asli banjar mas… bahsanya banjar semuanya… salam kenal dari kami sekeluarga di balikpapan. jika berkenan dan jika ke balikpapan bisa hubungin kami atau email atau kirim pesan di blog kami. maksih ya mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s