Catatan Hati

1 Juni 2009
Bagaimana mungkin! Mudah sekali kau mengatakan kita cukup berteman saja. Sementara aku, ah, tahukah kau bagaimana hatiku saat ini? Hancur, Fi! Hancur!!!
Asal kau tahu, Fi, sudah tiga tahun aku menyukaimu, mulai kita mendaftar di SMA ini, sejak aku kali pertama melihatmu!
Aku tak habis pikir, memangnya apa salahku? Kurang apa aku? Rasanya kalau dibanding dengan Jordan, mantan pacarmu yang kau putusi dua bulan yang lalu itu, masih lebih baik aku.
Ah, biarlah. Yang penting kau sudah tahu bagaimana perasaanku padamu selama ini.

2 Juni 2009
tamparan Hendra siang tadi itu keras sekali. Bekas lebamnya masih sangat jelas edi pipi kiriku. Memang, setelah kau putus dengan Jordan banyak sekali yang menginginkanmu. Karena itulah, aku tak bisa diam saja menghadapi pesaing0-pesaingku. Tapi ternyata, pipiku ini memang sakit sekali!

3 Juni 2009
O ya, Fi, hari perpisahan siswa kelas XII tinggal empat hari lagi. Dan aku positif akan kuliah di UI. Memang sih, aku belum tahu apakah aku lulus seleksi atau tidak, namun aku sangat yakin bahwa aku akan lulus, sebab tes yang dilaksanakan beberapa minggu yang lalu itu bagiku sangat mudah. Tak sedikit pun aku mengalami kesulitan.
Rencananya, sesudah perpisahan itu aku akan langsung berangkat ke bandara, diantar oleh Mama dan Papa. Aku tidak ingin berlama-lama lagi di sini. Aku harap, nasib sialku tidak tidak mengikutiku ke Jakarta.
Ah, andai saja kau mau menerimaku, tentunya aku tak perlu repot-repot pindah ke Jakarta. Biar saja uang pendaftaran untuk masuk UI yang telah kubayar itu. Dan aku pasti kuliah di UNLAM, sama sepertimu.

4 Juni 2009
Kau begitu terkejut ketika aku mengatakan akan kuliah di UI. Kau juga marah karena aku baru sekarang ini memberitahukannya. Baguslah, aku suka itu. Daripada aku biasa-biasa saja.
Aku sekali lagi mengutarakan perasaanku, dan kau, ah, lagi-lagi kau menolakku.

7 Juni 2009
Kau tampak cantik sekali hari ini. Kupuaskan mataku memandangimu. Ini adalah hari terakhir aku bisa bersamamu. Mungkin perlu waktu lama untuk bisa kembali bertemu denganmu.Ucapan selamat tinggal rasanya terlalu singkat untuk perpisahan ini.

12 Juni 2009
Kenapa, Fi? Kenapa baru sekarang ini kau memberitahukanku lewat SMS bahwa kau juga mencintaiku? Kenapa? Tolong kau jelaskan sejelas-jelasnya!!! Sungguhankah ini?
Mana mungkin aku kembali lagi ke Banjarmasin!

3 Maret 2010
Hah, bagaimana bisa! Aku betul-betul tidak percaya dengan SMS yang kuterima dari temanku Ahim. Bagaimana mungkin kau bisa hamil? Bukankah kau belum menikah? Dengan siapa kau melakukannya? Katakan, Fi, bahwa kau tidak sehina itu! Ayo, katakan! Katakan bahwa berita itu bohong!
Ah, aku bingung. Pikiranku kalu. Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang ada di kepalaku saat ini. Ahim tak mungkin secepat ini jadi seorang pembohong. Aku percaya dia. Tapi, berita tentangmu ini benar-benar tidak bisa dipercaya!

6 Maret 2010
Aku terpaksa pulang ke Banjarmasin hari ini untuk menemuimu. Berita tentangmu kali ini lebih mengejutkan lagi. Katanya, kau bunuh diri!
Sepanjang perjalanan aku berdoa, semoga saja kabar ini tidak benar. Namun tetap saja, ketika aku sampai di pemakaman, namamulah yang tertulis di batu nisan itu. Aku memang bukan pendoa ulung. Aku menyadarinya.
Fi, aku ke sini hanya ingin bilang bahwa ternyata, biar di Jakarta, nasib sial tetap saja mengikutiku. []

Iklan

2 pemikiran pada “Catatan Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s