Aku, Terlambat, dan Disanksi

Hidup di pesantren membuatku selalu berkutat dengan waktu.
“Teeeeeetttttt… teeeeeeetttttttt….”
Tu kan, bel tanda waktu istirahat berakhir sudah berbunyi, sementara aku masih mencuci pakaian di kolam.
“Sayudi !!! Lajui….!!!”
Nah, itu pasti suara ketua asramaku. Tapi apa boleh buat. Tanggung. Tinggal dua lembar lagi.
Selesai mencuci pakaian, aku mandi dulu. Menjemur cuciannya nanti saja. Tak ada waktu lagi.
Aku masuk lewat pintu belakang asrama dengan anduk melilit dari pusar sampai lutut dan tangan membawa perkakas mandi.
Tak kuhiraukan pandangan geram ketua asramaku yang sedang menunggu di pintu depan, siap untuk mengunci pintu. Kukunci pintu belakang lalu segera memasang seragam dan mengambil kitab.
Dengan tergesa-gesa, aku berlari keluar asrama. Kubiarkan kancing bajuku yang masih belum terpasang.
“Imbah magrib ikam badiri di Mushalla !” sanksi Ka Armi, ketua asramaku yang bawel itu.
“Hah, napa ka?” Aku protes.
“Tiwas ikam balalambat tarus! Urang habisan sudah tahulah!!”
Yah, begitulah hari-hariku di pesantren ini kujalani. Terus dihimpit oleh waktu. Aku, terlambat, dan disanksi, adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan.
*****
Di kelas tadi aku mengantuk sekali, namun selalu kutahan, sebab aku duduk di depan. Tidur di hadapan Ustadz yang sedang mengajar tentu saja adalah penghinaan. Dan aku tidak ingin menerima ganjaran atas melakukan penghinaan tersebut.
Maka tak ayal, begitu waktu pulang tiba, aku langsung berlari ke asrama dan menjatuhkan tubuhku yang kurus ini di atas kasur. Meskipun menurut teman-temanku kasurku ini sangat amat bau, tapi aku tak pernah merasakannya. Bagiku, kasur ini adalah surga!
Waktu zuhur memang telah tiba dan azan zuhur sebentar lagi mengalun, namun qamatnya masih lama. 20 menit, paling tidak. Waktu yang lumayan cukup untuk memuaskan kantukku.
*****
“Sayudi! Lakasi bangun, qamat sudah!” sayup-sayup kudengar Ka Armi membangunkanku.
Aku terjaga dari tidur. Tidak perlu panik. Aku hanya perlu meraih sajadah, berlari ke kolam wudhu, berwudhu, lalu masuk ke Mushalla. Sudah biasa.
Asramaku tidak jauh dengan Mushalla, sehingga hanya dalam beberapa menit aku sudah mengangkat takbir di Mushalla, dan tanpa masbuk!
*****
“Assala…mu ‘alaikum warahmatulla…h…”
Suara dari mic itu adalah suara pertama yang kudengar saat aku bangun dari tidur siang. Dan sesuatu yang pertama kulihat adalah wajah Zainuddin, staf keamanan yang sedang kontrol.
Aku bangkit. Kulihat jam dinding yang tergantung di atas pintu. Oh, tidak! Aku tidak shalat ashar berjama’ah! []

Gasan anak buahku yang lucu-lucu, jangan tapi ngalih diatur pang…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s