Gedoran Pintu

Aku yang sedang dengan nikmatnya tidur siang tiba-tiba dikagetkan oleh suara pintu digedor. Tak kuhiraukan gedoran itu, tapi gedoran itu malah semakin keras seolah tak mengizinkanku untuk kembali terlelap.

Meskipun sangat berat, aku mau juga akhirnya bangkit dan membukakan pintu, sebab gedoran itu tak juga mau berhenti. Sebenarnya, sebelum aku membukakan pintu itu, aku sudah yakin bahwa yang punya keperluan itu ialah yang menggedor pintu, bukan aku. Karena selama ini hidupku santai-santai saja. Semuanya terpenuhi.Tak ada lagi ambisi yang kukejar saat ini.
Namun begitu terkejutnya aku begitu pintu itu kubuka dan kulihat seorang lelaki dengan puluhan luka tembak yang terpajang di tubuhnya, sudah ambruk di depanm pintu.
“Zionis keparaaaat!!!” teriaknya untuk yang terakhir kali.
Mulanya aku bingung, apa yang terjadi dan siapa lelaki yang sudah tak bernyawa lagi ini. Tapi begitu kuamati sungguh-sungguh, aku tersentak kaget. Ternyata orang yang berlumuran darah itu adalah Ayahku sendiri!
Sejak saat itu, hidupku yang santai-santai saja, semuanya terpenuhi, dan tak ada lagi ambisi yang dikejar, kini harus berubah total.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s