Hati Yang Sunyi


Aku duduk sendirian di kelas ini. Menunggu Pak Herman, guru matematika yang sebenarnya aku sudah yakin bahwa hari ini pun beliau tak akan datang. Seingatku, dalam semester pertama ini beliau cuma pernah masuk dua kali. Tapi itu masih mending daripada pak Rahmat, guru TIK yang tak pernah masuk sama sekali. Sungguh keadaan yang sangat buruk untuk sebuah pesantren yang sudah terkenal seantero nusantara bahkan dunia!

Maka pada ketenangan kesendirianku inilah pikiranku segera mengembara. Mengantarku pada sebuah kisah masa lalu. Bayangan seorang gadis yang begitu cantik menari-nari di pelupuk mataku.

Aku masih ingat, sore itu aku melihatnya duduk sendirian di siring depan Mesjid Sabilal Muhtadin. Tanpa ragu aku menghampirinya. Sesaat kemudian, untuk ukuran seorang santri, aku dengan begitu nekad mengulurkan tanganku yang disambut dengan pandangan heran gadis berparas cantik yang duduk di hadapanku.

“Perkenalkan, Armie.” Aku tersenyum tipis.

Senyum gadis itu mengembang melihat wajahku yang tiba-tiba saja tampak sangat tolol.

“Irma…,” jawabnya seraya menyambut uluran tanganku. “Nama kita mirip ya?” sambungnya lagi. Dia lalu menggeser duduknya untuk kemudian mempersilakanku duduk di sampingnya.

Itulah awal perkenalan kami. Dan hari-hari berikutnya inbox dan sent items di 3230-ku dipenuhi nama Irma. Isinya seperti orang-orang kebanyakan: Di mana, lagi ngapain, udah maem belum, met pagi, met siang, met malem dan met bobo. Tak heran, tiga minggu saja kami sudah resmi dengan apa yang dinamakan pacaran, meskipun jarang sekali bertemu. O ya, setelah kami jadian itu, masih seperti orang-orang kebanyakan, bertambah lagi satu kata di SMS kami: emmmmuuaaaaaaccchhhhh…

Ah, tapi itu dulu, tepatnya empat bulan yang lalu. Sekarang semua sudah berbalik 180 derajat. Apa yang kulakukan kemudian sangat mudah ditebak. Aku menggila!

Kukumpulkan teman perempuan sebanyak-banyaknya dari internet. Tak sedikit dari mereka yang menanyakan apakah aku sudah punya pacar.

Masih jelas dalam ingatanku bagaimana dulu aku menyelidikinya. Kutanyakan keberadaannya lewat SMS. Dia membalas bahwa saat itu dia tengah berada di DM. Kebetulan waktu itu aku masih dalam izin pulang bulanan yang dia tidak mengetahuinya.

Aku segera menyeret jupiter MX-ku ke sana, tanpa sepengetahuannya tentunya. Aku yakin, dia pasti di Gramedia, karena aku tahu dia hobi membeli buku. Dan benar dugaanku. Sebenarnya, tujuanku semula bukanlah untuk menyelidikinya, melainkan memberinya surprise. Namun rupanya dialah yang lebih dulu memberiku surprise. Ya, dia tengah asik berbincang dengan seorang cowok yang dilihat dari penampilan, ekonominya berada jauh di atasku.

Aku tak serta merta curiga. Kubuntuti terus mereka. Dan dua kejadian yang kulihat sudah cukup membuktikan bahwa lelaki itu selingkuhannya ( atau akukah yang sebenarnya selingkuhannya?).

Pertama ialah saat mereka saling menyuapi ketika makan di restoran terbuka yang berada di lantai 4. Lalu yang kedua adalah saat mereka berciuman di tengah kegelapan bioskop Studio 21. Langsung kuhampiri mereka ketika wajah si laki-laki untuk kedua kalinya mendekati wajah Irma.

“Hai Irma…,” sapaku dengan sangat tenang meski batinku sangat ribut.

Mereka terperanjat. Irma tampak berusaha mengenali wajah dan suaraku yang tak begitu jelas akibat cahaya yang kurang dan musik background dari film Laskar Pelangi yang saat itu diputar pada adegan Pak Harfan meninggal.

“Eh, Ka Armie…,” ucapnya lirih sambil berusaha menyembunyikan apa yang barusan dia lakukan dengan cowok di sampingnya. Wajahnya memerah.

“Ulun pulang duluan.” Aku tersenyum pahit untuk kemudian berlalu meninggalkan mereka.

Irma pasti bingung dengan apa yang harus dia lakukan, tapi akhirnya dia mengejarku juga.

“Kita perlu bicara. Ulun bisa dan harus menjelaskan ini,” katanya padaku setengah berteriak setelah kami sudah keluar dari ruang I studio 21.

Kuhentikan langkah. Wajahnya yang cantik tampak begitu memelas, seperti balita yang kekurangan gizi. Segala pikiran berkecamuk di kepalaku.

“Sebaiknya Pian kembali duduk di samping pria tadi. Dia sudah membelikan Pian tiket nonton, kasihan dia,” komentarku setenang mungkin. Kutekan rasa marah di lubuk hatiku dalam-dalam.

Aku pun kembali melangkahkan kakiku, meninggalkannya yang sudah memberiku kisah lain di kehidupan ini. Kutengok dia sesaat. Dia diam di tempat sambil menahan tangis yang tak bisa dibendungnya. Ah, ini terlalu melankolis! Aku kemudian kembali berjalan. Semua sudah usai. Dan aku tahu bahwa ini pasti terjadi.

Bagiku, ia tak berbeda dengan wanita-wanita kosong yang banyak berkeliaran di sini.

***

Tak terasa, satu jam pelajaran telah berlalu begitu saja. Waktu memang begitu cepat berjalan. Kelas ini masih tetap sunyi. Masih aku sendiri yang ada di sini.

Tiba-tiba, barang terlarang di saku celanaku bergetar. Kulihat SMS yang masuk itu dengan sembunyi-sembunyi agar tidak dilihat orang lain, terutama Ustadz.

Eh, km Armie kan?

Tlong donk ajrin aq

mmpercantik FS….

Plis……. ^_^

Sender: 0852434343334

HP-ku kembali bergetar sebelum aku sempat membalas SMS tanpa nama tadi. Langsung kubaca SMS berikutnya.

Ass. Uln Irma

Nmr Pian ini uln dpt

dg ssh pyah. Ternyata

uln mmang tdk bisa

hdup tnpa Pian.

Tlong d’balas.

Sender: 085651214755

Aku bingung, kalimat apa yang mesti kuketik untuk membalasnya. Yang pasti, saat ini aku ingin hatiku sunyi dari kata cinta, seperti kelas ini yang selalu sunyi dari guru dan muridnya.

Iklan

9 pemikiran pada “Hati Yang Sunyi

  1. Seperti lagu sandi “Telp aku 72777777.” Cerita asyik, sekaligus pesan yang kompleks. Ditunggu cerita lainnya. Di Pesantren kalem aja ya bro. Santai, seperti di pantai

  2. @ HungangTahu ai aku Ya ai, kam tu handak minta pujian balasan kalo? Tenang..@ Udin GambutAlhamdulillah, bikhairin wa afiyah. Wa anta?@ Jamrud KhatulistiwaKaitu pang sudah kisahnya@ FahrizalApanya yg bisa jua jal?@ Arief BrianHanyar kawa taposting Tay ai. Oke, tunggu ja karya yang lain.@ NiaSemangat dong..@ SyafwanApa hubungannya pantai wan santai Wan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s