Jadi Ketua Asrama

Pagi minggu yang lalu semua santri kelas 2 aliyahh berdebar-debar, sebab pagi itu akan dibacakan daftar ketua-ketua asrama yang baru, dan tentunya, kamilah yang akan jadi ketua asrama tesebut.
Kami berdebar-debar bukannya karena kami gugup, tapi takut kalau-kalau menjadi ketua asrama Malik, terlebih lagi asrama Malik 4.
Ustadz Rusdi sebelumnya memberikan sedikit kata pengantar lalu tanpa banyak bicara langsung membacakan daftar ketua-ketua asrama yang tertera di selembar kertas yang beliau pegang.

“Yang pertama, ketua asrama Babus Salam, Zian Armie Wahyufi…”
Yes! Aku ketua Babus Salam, bukan ketua Malik. Senang? Tentulah! Sebab, itu berarti anak buahku adalah para anak-anak kelas satu tsanawiyah!
Setelah itu, berbagai ekspresi tampak dari wajah teman-temanku, seperti layaknya pengumuman kelulusan tes CPNS. Ya, jadi ketua asrama adalah saat yang paling ditunggu-tunggu selama enam tahun sekolah di sini.
Tapi aku bingung, apa gerangan sehingga namaku itu dengan indahnya berada di urutan paling atas? Perlu kau ketahui, Ustadz tak sembarangan menentukan ketua-ketua asrama. Hanya orang-orang pilihan yang bisa menjadi ketua asrama yang anak buahnya para kelas 1 tsanawiyah. Dan orang yang beliau anggap buruk akan beliau pilih jadi ketua asrama Malik 1, Malik 2, Malik 3 dan seterusnya sampai Malik 14. Jadi biar terkumpul di asrama Malik-Malikan itu pira-piranya Al Falah. Tahu kan aku apa itu pira?! Itu lho, ulat yang ada di dalam buah mangga, yang mana mangga tersebut sangat bagus bila dilihat dari luar.
**
Siang itu juga aku mengangkut barang-barangku (yang sangat sedikit) ke asrama Babus Salam yang letaknya paling muka, di samping kantor. Anak-anak kelas 1 tsanawiyah penghuni Babus Salam lantas menyambutku bahagia(i think). Masing-masing dari mereka menawarkan bantuan, namun kutolak dengan, “Kada usah, kada tapi banyak jua…
Yeah, penghuni asrama ini memang baik-baik. Apabila mereka punya makanan pasti memberiakannya sebagian untukku. Kemudian hampir setiap malam dan siang mereka membelikan es manis untukku. Bahkan ada dari mereka yang ingin memberiku pelapis dinding, supaya kamarku tampak indah. Belum lagi wajah mereka yang imut-imut dan tingkah mereka yang lucu abis. Sungguh, inilah masa-masa madu. Masa yang ditunggu selama bertahun-tahun. Meskipun banyak juga sih repotnya mengurus anak-anak itu.


**
Aku masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Ustadz meletakkan namaku di barisan paling atas? Apa istimewaku? Atau jangan-jangan supaya mudah mengawasiku? Asrama Babus Salam kan di samping kantor!
Ah, biarlah. Tak usah terlalu dipikirkan. Yang sebaiknya kupikirkan sekarang bagaimana membimbing anak-anak Babus Salam ini. Ini adalah amanat yang besar. Aku bertekad, akan menjadi pelayan mereka dan menjadi ketua asrama terbaik sepanjang masa!

Iklan

15 pemikiran pada “Jadi Ketua Asrama

  1. selamat…selamat….saran nih…klo bisa blognya gak usah pake tulisan2 yang melayang ini dong………jadi pusing ngeliahatnya lagian mau baca postingannya jadi susah karna banyak gangguan…lagian apa gak pusing tuh kebanyakan animasi+java script..

  2. @ DillahTuh, tulisan Zian X-Fly yg melayang sudah tak mengganggu lagi.@ SyafwanAmiin..@ DeliaValentine tu bukan dari Islam kawan ai,,@ NiaYa, semangat dong..@ DeeYup, doakan saja @ CacabiTulisannya Su’u Zhon.. Ah, barang haja, asal mangarti ha..@ AgushwYayaya… Tulisan mengganggu itu sudah berkurang, hehe… Semoga betah dg gangguan baru..@ AkmaliaIya dong, harus keren gitu…Syukurlah kalau sampean senang lagunya@ SaidAda apa Said?@ Livia Ya, semoga bisa.@ AgungSilahkan contoh aku gung ai.. haha..@ rahmaOke deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s