Kisah Ikut Acara Ulang Tahun Kayuh Baimbai

Sebenarnya aku bingung mau menulis apa dan dari mana memulainya. Tapi berhubung teman-teman dari Kayuh Baimbai terus memintaku untuk menulis bagaimana perjuangannya ikut acara ulang tahun Kayuh Baimbai yang diadakan pada malam kemarin di Plasa TELKOM, maka baiklah, kucoba saja.
**
Kalau bicara soal perjuangan, tentunya harus kumulai dari siang kemarin, saat aku menerima kabar dari Fahrizal bahwa malam ini(malam rabu) akan diadakan acara ulang tahun Kayuh Baimbai di Plasa TELKOM. Sebenarnya aku sudah yakin bahwa pada malam ini akan diadakan acara, meskipun belum tahu di mana tempatnya.

Dan sebenarnya, aku sudah dengan kukuhnya berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan ikut. Kau pasti sudah bisa menebak apa pasalnya. Ya, dompet santri itu selalu kempesss! Tak sebanding dengan pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk bisa menyambung hidup di pesantren.
Tapi saat mendengar berita itu entah mengapa hati dan otakku berkombinasi dengan cepatnya dan dengan cepat pula menghasilkan keputusan bahwa: bagaimanapun juga, aku harus ikut!
Langkah awal perjuanganku adalah mencari izin dari wali kelas. Namun sialnya, saat itu ada salah seorang Ustadzah yang wafat dan wali kelasku diminta sebagai pembaca talqin. Itu berarti, beliau tak ada di rumah.
Kutunggu beliau sampai jam 2 lewat 15 menit. Syukurlah, saat tiu beliau sudah ada di rumah.
“Ustadz, ulun handak minta izin…,” kataku memelas seraya menyerahkan kartu izin beserta polpen.
“Ka mana?”
“Bulik ka rumah Ustadz ai…”
“Kanapa?” Tanya beliau lagi.
“Ada acara…,” jawabku tanpa dosa. Dalam hati aku bertutur: acara ulang tahun Komunitas Blogger Kalsel Ustadz ai…
Beliau lalu membuka tutup polpen yang tadi kusodorkan dan mencari kolom di mana beliau mesti membubuhkan tanda tangan. Yes…, ternyata semudah ini…
Tapi, “Acara apa?” Selidik beliau.
Glek! Itulah pertanyaan yang sangat amat tak ingin kudengar, karena aku pasti harus berbohong untuk menjawabnya. Bingung aku harus menjawab apa, namun dengan cepat pikiranku membisikkan: acara selamatan! Soalnya ulang tahun itu biasanya ada selamatannya!. Aha, ide yang bagus!
“Acara selamatan Ustadz ai…”
“Oooh…”
Kuperingatkan padamu, kawan. Janganlah sekali-kali kau melakukan kebohongan seperti yang telah kulakukan ini, karena biasanya itu akan membawamu pada calaka!!!
Beliau pun lalu dengan ikhlasnya (cuma menurutku) menyematkan tanda tangan beliau yang amat tak terhingga nilainya itu di kartu izinku, lalu menyerahkannya.
“Terima kasih Ustadz lah…,” ucapku sambil menerima kartu izin yang beliau sodorkan dan kemudian menyalami beliau.
Yes, yes, yes, yes…
**
Begitulah, selesai sudah masalah izin. Berikutnya lalu masalah bagaimana caraku ke Plasa TELKOM. Untuk kesekian kalinya kutengok lagi isi dompetku. Yah, masih sama, tetap 1 lembar uang 20 ribu. Bisa apa aku dengan uang bergambar pemetik teh itu? Andai saja hari ini sahabatku M. Noor tidak berhalangan, pastilah aku bisa minta kerja samanya (atau lebih tepatnya: bantuannya) lagi.
O iya, uang itu kan cukup untuk ongkos taksi pulang ke rumah meskipun sangat pas-pasan. Ketika sampai di rumah barulah ke Plasa TELKOM pakai motor. Ya, itu keputusan yang paling tepat. Aku pun berangkaaat!
Ah, jangan kau kira semudah itu, kawan. Sebelum bisa keluar melewati POS satpam aku harus menjalani interogasi panjang dari dua orang satpam berwajah sangar dan tasku digeledah habis-habisan. Bahkan, tiap lembar tulisanku di buku tulis yang kubawa tak lepas dari pemeriksaan. Belum lagi di tasku itu juga ada novel Maryamah Karpov dan flashdisk. Dua benda antik itulah yang amat menyita waktuku. Namun dengan keahlian permainan kata-kataku, benda-benda berharga peninggalan zaman purba itu pun selamat sentosa dan sejahtera. Dan aku bisa pulang ke rumah!
**
Di terminal Handil Bakti, seperti biasa, perlu menunggu berjam-jam sampai taksi jurusan Gampa penuh. Sopir taksi terus menawarkan agar para penumpang “bakumpulan” saja untuk menutupi tiga kursi yang masih kosong. Hah, kumpulan dengan apa? Setelah membeli tiket taksi tadi uangku sisa 0 rupiah!!!
Alhamdulillah, alangkah beruntungnya aku kali ini, ada dua penumpang mau “manapali” tiga kursi kosong itu. Berangkaaaaattttt……..
**
Sampai di rumah, orang tuaku tidak ada. Yang ada hanyalah kakak perempuanku seorang. Motor yang satunya juga tidak ada, dipakai suami kakakku. Hari pun hujan. Jam 6 lewat, suami kakakku datang, dengan motor tentunya. Langit pun sudah berhenti mengguyurkan hujan. Cihuuyyyy….
Ah, tapi aku tidak bisa pergi begitu saja. Kakakku bersikukuh tak mengizinkanku berangkat kecuali minta izin dulu dengan Ayah. Dengan pulsa yang seadanya, kutelpon Ayah dan kujelaskan di mana aku sekarang dan apa maksudku. Beliau tersentak kaget. Keahlianku bermain kata-kata lagi-lagi sangat diperlukan, dan hasilnya, AKU DIIZINI……..!!!!
**
Di halaman Plasa TELKOM itu cuma ada beberapa orang anggota Kayuh Baimbai saat aku tiba. Kusalami mereka. Kemudian satu persatu orang di sana menjadi banyak. Aku pun mulai akrab dengan anggota-anggota Kayuh Baimbai yang lain.
Sesudah lumayan lama, acara dimulai. Ketika Mas Hari (leader Kayuh Baimbai) memberikan sambutan, saat itulah aku merasa jadi tamu yang paling istimewa (tak apa kan?) karena dalam sambutannya itu Mas Hari dengan penuh semangat menceritakan bagaimana perjuanganku bergabung di Kayuh Baimbai, yang mana ceritaku itu kutulis di blog dan kuikutkan dalam lomba memperebutkan domain dan hosting gratis selama satu tahun yang pemenangnya akan diumumkan pada malam ini.
Aku semakin merasa istimewa saat aku juga diminta membacakan doa selamat! Ya, doa selamat yang berarti izinku pada Ustadz tadi tidaklah bohong, hehe…
Kuberitahukan padamu, hanya padamu, kawan. Jadi rahasiakanlah cerita ini. Saat membaca do’a selamat tadi kegugupan menyerangku, yang mana akibatnya mengganggu kerja otak untuk menampilkan memori doa selamat yang dulunya telah kuhapal dengan sebenar-benar hapal. Yang kuingat saat itu cuma awalnya, maka jadilah sambungan do’a tersebut berbahasa Indonesia. Lalu supaya panjang, kulafazkan juga doa-doa untuk saudara Muslimin di Palestina. Haha…, membacanya pun aku “tasulait-sulait”. Kuperingatkan sekali lagi, kawan, jangan kau ceritakan cerita memalukanku ini pada siapapun juga! Cukup kita berdua dan Allah saja yang tahu.
**
Kini tibalah acara pada saat yang ditunggu-tunggu. Apalagi kalau bukan pengumuman pemenang lomba menulis bertema “Aku dan Kayuh Baimbai” yang hadiahnya adalah domain dan hosting gratis selama satu tahu. Ya, satu tahun.
Sejak sambutan Mas Hari tadi aku sudah yakin seyakin-yakinnya, bahwa aku pasti menang. Keyakinanku itu terwujud. Aku menang, kawan! Sekali lagi, AKU MENAAAANG!!!!
Ternyata, masih ada lagi hadiah tambahan dari TELKOM, yaitu hape Flexi layar warna. Nah, ini yang bisa kutunjukkan pada orang tuaku nanti.
Seperti itulah ceritanya, kawanku. Perjuangan itu ternyata asik!
Sebenarnya, menang atau kalah pun tak jadi masalah. Karena bagiku bisa hadir di Plasa TELKOM pun sudah merupakan hadiah yang tak ternilai hingga aku bisa lebih akrab dengan anggota yang lain.
**
Di perjalanan pulang, sambil menahan perutku yang berdendang ria (aku salah prediksi. Kupikir pada acara ulang tahun Kayuh Baimbai tersebut aku akan bertatap muka dengan nasi, ternyata tidak sama sekali…), aku mulai berpikir. Buat apa bagiku domain dan hosting gratis itu? Terus mungkinkah aku bisa bayar untuk tahun yang selanjutnya? Lagi pula, aku tidak bisa sering online. Santri Al-Falah sepertiku ini cuma bisa online satu bulan sekali, yaitu saat pulang bulanan, itu pun bila kondisi dompet mengizinkan.
Cukuplah rasanya ngeblog denganlayanan dari blogger.com plus domain gratisan dot tk. Karena tujuanku berkecimpung di dunia maya ini hanyalah untuk menerbitkan tulisan-tulisanku yang terbengkalai dan memperbanyak teman. Hanya itu.
Mungkin akan lebih baik dan lebih bermanfaat bila hadiahnya diganti dengan uang saja (semoga tulisan ini dibaca oleh sang Admin). Sebab dengan begitu aku bisa mengganti keyboardku di rumah yang saat ini tengah sakit parah dengan yang baru. Bayangkan, huruf yang masih bisa digunakan cuma tinggal Q,W,O,F,Z,X,C dan V !
**
Salam persahabatan untuk semua anggota Kayuh Baimbai, terutama yang malam Rabu kemarin hadir.

Foto-fotonya:







Iklan

7 pemikiran pada “Kisah Ikut Acara Ulang Tahun Kayuh Baimbai

  1. ada 2 pelajaran:1. ambil hikmah tentang perjuangannya yg tdk pernah menyerah2. jangan ditiru upaya menghalalkan segala cara (berbohong). ada saatnya memang berbohong dibolehkan, tapi hanya dalam 3 hal(kalau nggak salah sih. Penulis barangkali lebih tahu haditsnya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s