Lika-Liku Menjadi Anggota Kayuh Baimbai


Pertama aku mengenal Kayuh Baimbai ialah saat membaca harian Radar Banjarmasin. Di sana terpampang satu halaman penuh yang isinya membahas blog. Dan aku pun lalu tahu bahwa ternyata rubrik Blogger itu adalah hasil kerjasama Radar Banjarmasin dengan Kayuh Baimbai, yang ternyata adalah komunitas blogger Kalimantan Selantan yang terbesar.
Segera muncul keinginan saat itu juga untuk bergabung dengan organisasi tersebut. Keuntungan yang bisa kuperolerh bila menjadi anggota tentu saja banyak, sulit aku menjelaskannya.
Singkat cerita, kuajaklah Qori, temanku di Al Falah yang sudah lama sekali berkecimpung di dunia blog dan saat ini dia sudah jadi orang gila (gila blog!), untuk bergabung di Komunitas Blogger Kalsel tersebut.
“Ah, aku rancak dah manakuni buhannya tu Zian ai, tapi kada suah direspond!”
Namun barangkali memang sudah tabiatku yang “pangarasan”. Aku tetap mencoba untuk bergabung. Kutanyakan saja pada beberapa orang anggotanya, toh tak ada salah dan ruginya.


Lalu ketika tiba kesempatan ke warnet,—kubilang kesempatan karena aku adalah seorang santri Pondok Pesantren Al Falah yang sudah sangat terkenal dengan ketatnya peraturan, tak terkecuali izin keluar pondok—langsung saja kubuka kayuhbaimbai.org, dan lewat sana kubuka beberapa blog milik anggotanya. Kutanyakan pada mereka tentang bagaimana caranya bergabung di Kayuh Baimbai. Tapi namanya juga bukan chatting, jadi kesempatan untuk segera menerima jawaban sangatlah kecil.
Beberapa hari setelahnya, dengan meminjam HP milik Khairul, (dia nekad membawa HP ke pondok, padahal sanksi bila sampai ketahuan oleh Ustadz sudah terkenal sangat berat di seantero Al Falah: HP tersebut dibakar dan bila ketahuan lagi langsung dikeluarkan!), kulihat blogku. Siapa tahu dari beberapa anggota yang kutanyai itu ada yang membalas.
Dan benar saja, Chandra (SoulHarmony) dengan sangat amat tegas menulis:
“Saya undang untuk bergabung dengan komunitas blogger kalsel dan ikuti ketentuannya. Salam.
Chandra (085251534313 / 7718393)”
Kalau saja tidak memalukan, mungkin saat itu aku akan melompat dengan setinggi-tingginya dan berteriak “Ciiiiihhhuuuuyyyyyyyy!!!!!!”
Segera kuhubungi Chandra lewat nomor yang ia berikan itu. Lalu dia jelaskan bagaimana cara mendaftarnya. Selain itu dia juga mengajakku mengikuti pertemuan yang akan dilaksanakan pada malam Selasa di Radio Star FM, Banjarbaru. Katanya, setelah kita mendaftar via online, kita tetap tidak bisa jadi anggota bila tidak mengikuti pertemuan semacam itu, istilah mereka KOPDAR (Kopi Darat).
Nah, bila kisahku ini adalah sebuah cerpen, maka puncak konfliknya ialah saat bagaimana caranya aku mengikuti KOPDAR yang jarang-jarang ada itu, sementara uangku sangat sulit dijelaskan bagaimana keadaannya. Bagaimana aku dari Lansdasan Ulin ini ke Banjarbaru kalau tidak dengan membayar ongkos taksi? Belum lagi acaranya malam, bagaimana aku pulangnya nanti? Taksi kan malam sudah habis. Dan yang terakhir adalah masalah izin keluar. Mungkinkah aku diberi izin keluar untuk acara semacam itu, malam lagi!
Aku terus putar otak. Saat itu rasanya pikiranku seperti air ledeng yang tidak mengalir. Mati!
Tapi ternyata otakku masih bisa juga bekerja. Satu masalah bisa terpecahkan, yakni masalah pulang ke pondok. Aku bisa minta bantuan M. Noor yang rumahnya di Banjarbaru untuk menampungku di rumahnya samalaman, dan paginya aku bisa pulang dengan taksi. Sekalian saja dia kuajak ikut, dia kan blogger juga.
Masalah duit, terpaksa aku terus terang pada orang tuaku bahwa uangku saat ini sangat sekarat. Beberapa hari setelahnya mereka pun ke Al Falah, memberikanku uang (dengan wajah terpaksa).
Sedangkan izin, seperti yang sudah kubilang, di Pesantren Al Falah ini semuanya sangat ketat, termasuk izin. Dan ternyata memang benar-benar watakku,—yang harus betul-betul kusyukuri—aku tak akan menyerah sebelum benar-benar kalah. Siang Seninnya, sesudah shalat zuhur berjamaah, aku ke rumah wali kelasku. Tentu saja untuk minta izin keluar.
Kuakui, Ustadz yang jadi wali kelasku itu sangat baik terhadapku, tanpa banyak cincong Beliau membubuhkan tanda tangannya di Kartu Izinku pada tabel izin keluar!
Yesss! Semua masalah telah terselesaikan. Sore itu juga aku ke Banjarbaru setelah sebelumnya janji ketemuan dengan M. Noor di toko buku Riyadh.
Singkatnya, aku pun bisa ikut KOPDAR, dan tentunya, aku resmi jadi anggota Kayuh Baimbai. Tak percaya? Lihat saja fotoku yang terpajang di halaman ini.
Salam sejahtera untuk semua anggota Kayuh Baimbai yang baik-baik dan imut-imut…

Foto aku, M.Noor dan chandra di Star FM:

Foto lainnya:

Iklan

21 pemikiran pada “Lika-Liku Menjadi Anggota Kayuh Baimbai

  1. wahh perjuangan berat yahh??!aku udah nyoba sh contact nanya2 mengenai blogger community itu, tp syg GA DA RESPON..pdhl aq cm tny apa bisa “blogger newbie dgn Genre “ENGLISH” basic bs ikut nimbrung?tapi at last words, Salut deh .. sama perjuangannya

  2. teman-teman di Kayuh Baimbai memberlakukan aturan yg sama untuk semua orang, memang ada yg merasa berat dan lain sebagainya. tapi mau bilang apalagi, itulah yg telah disepakati bersama. Aturan ini juga menimpa salah satu pejabat di Kalsel yg tidak diberikan hak khusus.:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s