Suara Hati Empat Jiwa

Tokoh 1 : Ustadz Badaruddin

Aku duduk bersila, menghadap ratusan santri. Kitab Al-Hikam kubacakan kata demi kata, lalu kata-kata itu kuartikan ke dalam bahasa Indonesia. Aku tidak ambil pusing dengan kosa kata yang tidak kuketahui artinya. Aku tinggal tak usah mengartikan kalimat itu. Dengan begitu, para santri akan berpikir : Mungkin Ustadz Badar menganggap kami sudah paham arti kalimat ini, jadi tidak perlu diartikan lagi.

Atau dengan cara yang lebih ’terhormat’, yaitu kuartikan saja kata itu dengan kata itu sendiri, seolah kata itu sudah menjadi istilah yang umum. Atau dengan isim masdarnya¹ namun diberi imbuhan me- dan -kan.

Suasana Mushalla tempat aku membacakan kitab ini lumayan gaduh. Mungkin karena isi kitab ini kurang menarik, atau karena suaraku yang pelan dan terlalu cepat. Ah, biarlah.

Situasilah yang telah membuatku menjadi seorang Ustadz. Belasan tahun yang lalu aku menyelesaikan pendidikan di pesantren ini. Nilaiku pas-pasan dan aku pesimis akan mendapat pekerjaan yang layak di luar pondok sana. Maka oleh karena itu kuajukan permohonan kepada yayasan pondok ini untuk menjadikanku karyawan.

Keberuntungan menyapaku. Yayasan mengangkatku menjadi petugas kebersihan ruang kantor. Pekerjaan yang lumayan ringan tanpa perlu tenaga besar dan keahlian khusus.

Setelah beberapa tahun menjalani pekerjaan itu, ketua yayasan yang baru dilantik prihatin denganku. Dan aku diangkat beliau menjadi seorang Ustadz, meskipun hanya Ustadz di kelas yang paling rendah. Namun, seiring dengan bergulirnya masa, posisiku perlahan naik. Dan sekarang aku sudah menjadi Ustadz di kelas aliyah, kelas yang paling tinggi di pesantren ini. Dan menjadi pembaca kitab Al-Hikam di Mushalla pesantren ini setiap malam Rabu.

Kali ini aku menemukan lagi kosa kata yang tidak aku ketahui artinya, yaitu kata “harradha”. Ini tak masalah, kuterjemahkan saja dengan “mentahridhkan”. Tapi, sebelum aku mengucapkannya, listrik seketika padam. Mushalla gelap, suasana semakin gaduh. Santri-santri yang tadinya cuma bicara pelan kini teriak-teriak. Bagiku, keadaan ini semakin menolongku. Tak lama setelah itu, masuk seorang keamanan dari staf OSIS. Dia teriak-teriak menegur.

“TENAAANG… TENAAANG… !” Begitulah teriaknya.

Para santri seolah tidak mendengar dengan teriakan itu. Mereka tetap saja ribut. Beberapa detik kemudian, terdengar suara kaca pecah. Mushalla menjadi senyap dengan seketika.

“SIAPA LAGI YANG BERANI RIBUT? KALAU BERANI, KELUAR ! HADAPI SAYA…” Keamanan itu kembali teriak-teriak, seperti orang gila saja.

Tokoh 2: Waruk, santri kelas 1 tsanawiyah yang rajin

Bersandar di pintu Mushalla adalah hobiku saat mendhabith² kitab, karena meskipun udara di dalam Mushalla sangat pengap, aku masih bisa merasakan kesejukan udara malam dari luar.

Aku berusaha keras untuk konsentrasi, tapi keributan di sekitarku tak sedikit pun memberi toleransi. Belum lagi Ustadz yang membacakan arti kitab dengan meloncat-loncat, kami mengistilahkannya dengan “malingkau-lingkau”. Ditambah lagi bau kentut yang entah dari mana datangnya. Ah, sulit sekali konsentrasi.

“Ustadz… saya baru kelas satu tsanawiyah. Hapalan kosa kata bahasa Arab saya masih sedikit. Tolong artikan semuanya, jangan dilingkau-lingkau !” Aku cuma bisa mengeluh dalam hati.

Ketika Ustadz akan menerjemahkan kosa kata yang sebelumnya tak pernah kudengar, dan aku sudah siap dengan polpenku untuk mendhabith, tiba-tiba listrik padam. Keributan semakin menjadi-jadi. Tak begitu lama, masuk seorang keamanan yang langsung teriak-teriak.

“TENAAANG… TENAAANG… !” Teriaknya memekikkan telingaku.

“Kamulah sebenarnya yang paling ribut…” ucapku pada keamanan itu, tapi tentu saja cuma dalam hati.

Keributan masih saja terdengar di sana-sini. keamanan itu mengambil kreatif dengan memukul kaca pintu Mushalla yang tinggal satu-satunya, yang satunya lagi sudah pecah lebih dulu, juga karena keamanan yang marah-marah.

Praaanggg !

Setelah terdengar bunyi kaca pecah itu, suasana menjadi tenang. Bahkan temanku Udin yang ingin batuk pun menahan batuknya agar tidak menimbulkan suara. Pecahan kaca berserakan di mana-mana, dan yang paling banyak tentu saja di atas sajadahku. Sialan!

“SIAPA LAGI YANG BERANI RIBUT? KALAU BERANI, KELUAR! HADAPI SAYA!” Masih tak puas rupanya keamanan itu bikin keributan.

Tokoh 3: Joko, anggota keamanan staf OSIS

Aku adalah salah seorang anggota keamanan. Aku sangat bangga dengan jabatan itu, karena aku akan dipandang sebagai orang yang gagah dan macho, bahasa kaminya : ‘tacut’. Selain itu, menjadi keamanan juga mengasyikan. Aku bisa menyanksi anak-anak tsanawiyah sesuka hatiku, sebagai bentuk balas dendam atas para keamanan terdahulu yang menyanksiku waktu aku belum menjadi anggota OSIS. Sebuah kepuasan yang tidak mungkin didapat di bidang lain.

Malam ini aku tengah berbincang ria dengan teman-temanku di atas semen yang dibuat untuk tempat bunga. Semen itu terletak di depan asrama sekaligus di samping Mushalla dan pas sekali dijadikan tempat nongkrong.

Bintang-bintang terlihat mengerumuni kehitaman langit tanpa ada bulan dan awan yang menghalangi keindahannya. Dari moncong mic yang ada di samping Mushalla yang memprihatinkan itu terdengar suara Ustadz Badar sedang membacakan kitab Al-Hikam.

Ketika beliau sedang ingin mengartikan, tanpa disangka, listrik padam. Keadaan menjadi gelap. Mesin jinset yang kemarin dibeli dengan iuran 2.000 rupiah dari setiap santri tidak bisa bekerja dengan baik lagi, atau yang lebih tepatnya rusak.

Dari dalam Mushalla mendengung-dengung suara ribut dari para santri. Inilah giliranku. Saatnya aku beraksi.

“TENAAANG… TENAAANG…!” Tegurku dengan lantang. Tapi para santri memang menjengkelkan, mereka masih saja gaduh. Mereka meremehkanku rupanya. Segera aku mendekati pintu Mushalla yang setengah di atasnya adalah kaca. Kupukul kaca itu dengan kepalan tanganku dan…

Praaangg!

Kaca pintu itu pecah, dan pecahannya berserakan. Sebagian pecahannya juga tertinggal di tanganku. Menancap. Sehingga tetesan-tetesan darah berebut keluar dari lubang yang tercipta oleh pecahan kaca itu. Aku berusaha menahan perih. Keadaan Mushalla memang tenang, namun hatiku sangatlah tidak tenang karena menahan rasa sakit di tanganku.

Ah, daripada ketahuan kalau sedang kesakitan lebih baik kulanjutkan aksiku.

“SIAPA LAGI YANG BERANI RIBUT?” Ucapku dengan wajah yang tegar dan sangar seperti tidak merasa sakit sedikit pun. “KALAU BERANI, KELUAR! HADAPI SAYA!” Lanjutku dengan gaya menantang seraya berjalan ke tengah-tengah Mushalla.

Tokoh 4: Kucang, satri kelas 2 tsanawiyah yang suka ribut.

Lidahku akan terasa gatal bila aku tidak bicara. Oleh karena itu kuajaklah teman-teman di sampingku bicara sambil sesekai bercanda. Aku sadar bahwa yang kulakukan ini tidak ada manfaatnya, tapi bagiku itu lebih baik daripada cuma diam, mendengarkan Ustadz yang membacakan kitab dengan sepat dan tidak jelas. Cuma membuat telinga kewalahan!

Yang kami bicarakan macam-macam, mulai dari masalah cewek, harga-harga HP, kartu-kartu yang tarifnya murah, film-film seru, website-website keren, de el el.

Perutku tiba-tiba terasa sakit dan punya beban, lalu…

Pesshhh…

Pelan namun pasti. Tak mungkin terdengar oleh manusia-manusia di sekitarku. Tambah lagi suara microphone dari Ustadz Badar yang bersamaan bunyinya dengan kentutku. Meski suaranya pelan, baunya minta ampun. Aku pun sampai tidak tahan. Teman-teman di sekitarku menggerutu karena kebauan dan aku tenang-tenang saja. Namun tiba-tiba listrik padam, sehingga gerutu mereka berubah menjadi hamdalah.

“Alhamdulillah…,” ucap mereka serempak seperti ada yang mengomandu.

Kami pun kembali berbicara dan bercanda gurau. Suara kami lebih bebas dari yang tadi. Tadi kami merasa tidak enak ribut di hadapan Ustadz, namun sekarang beliau tidak akan jelas melihat kami dan keributan kami menyatu dengan keributan kelompok lain.

Demi mengakhiri kegaduhan ini, masuk seorang keamanan yang teriak-teriak.

“TENAAANG… TENAAANG…!” Seperti itulah teriaknya.

Mungkin karena merasa tegurannya tidak ada artinya, dia pun memukul kaca pintu dengan genggaman tangannya dan…

Praanggg !

“SIAPA LAGI YANG BERANI RIBUT? KALAU BERANI, KELUAR! HADAPI SAYA!” Teriaknya lagi sambil berjalan ke tengah-tengah Mushalla, melewatiku. Ada darah yang menetes ke hidungku. Aku yakin, darah itu pasti dari tangan si keamanan tadi yang tertusuk pecahan kaca.

Ha… ha… ha…, rupanya sebelumnya dia tidak memikirkan akibat-akibat dari perbuatannya itu. Ha… ha… ha…, aku kembali tertawa, tapi cuma dalam hati. []

1) isim masdar: kata dasar dari sebuah kata bahasa Arab.

2) mendhabith: menulis arti dari kosa kata bahasa Arab di bawah kosa kata tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s