Memoar Komikus

Kugoreskan pensilku di atas sobekan kertas HVS, kemudian gambar kepala robot tercipta, menyusul kemudian badannya, tangannya, lalu kakinya.

Ustadz Salim terus menjelaskan pelajaran Nahwu, pelajaran yang lebih sulit dari fisika, lebih rumit dari matematika dan lebih membosankan dari akuntansi. Jarum pendek di jam dinding telah menunjukkan angka 12, dan jarum panjang ke angka 2. Seperti biasa, pada jam pelajaran terakhir ini, 70% santri kelas 1 tsanawiyah G tertidur dengan gaya tidur masing-masing. Ustadz Salim tak peduli. Beliau terus saja membacakan kitab ‘Mukhtashar Jiddan’ sembari sesekali mata beliau terpejam dan mulut beliau menguap. Jelas sekali bahwa beliau sedang berjuang keras menahan rasa kantuk.

Tak terasa, sebuah dunia robot sudah tercipta di atas kertas HVS dan bel tanda pelajaran berakhir menggema.

“Wallahu a’lam bisshawa…b,” ucap Ustadz Salim mengakhiri pelajaran seraya merapikan kitab-kitab yang beliau bawa.

Mendengar kalimat itu, 70% santri yang tadinya terlelap sontak terjaga, seakan sudah distel agar bangun saat kalimat wallahu a’lam bisshawab tersebut diucapkan.
*****

Adzan zuhur selesai dikumandangkan, namun iqamat masih lama. Biasanya, 25 menit lagi barulah iqamat dikumandangkan. Tak mungkin waktu 25 menit itu kusia-siakan begitu saja. Kuhamparkan sajadahku di saf pertama, lalu mulai menyempurnakan gambar dunia robotku. Aku larut dalam menggambar, hingga tanpa kusadari, sesosok tinggi kurus berambut keriting sudah ada di sampingku.

Amat, begitulah namanya yang kutahu. Tapi aku cuma tahu namanya. Aku tidak akrab sama sekali dengannya, jangankan akrab, bicara dengannya saja aku belum pernah, karena kami memang beda asrama dan beda kelas.

Amat menengok ke arah gambar buatanku, lalu tanpa diduga ia mengeluarkan pensil dan selembar kertas dari saku bajunya. “Gambaranku tak boleh kalah dengan orang seperti ini”, begitulah mungkin yang ada dalam pikirannya. Dan mulailah ia menggambar.

Kutengok gambarannya, gambar bebek! Kemudian dia yang menengok gambaranku. Semangatnya terpompa. Dia semakin cepat menggambar, hingga jadilah gambar peternakan bebek. Di atasnya dia tuliskan judul gambarannya itu: ‘Bebek-Bebek Milik Pak Amin’. Tawaku hampir lepas, namun segera kutahan.

“Kamu suka menggambar juga, ya?” Tanyanya memecahkan keheningan kami.

Kujawab pertanyaannya itu dengan anggukan.

*****

“Kamu tahu nggak, ini gambar apa?” Amat kembali menanyaiku usai shalat zuhur.

“Peternakan bebek, kan?” Terpaksa aku menjawab, padahal aku masih sibuk membaca wirid.

“Ya, kamu benar. Bebek yang putih ini namanya Mex, kalau yang abu-abu namanya Jacky. Nah, sedangkan yang hitam, karena warnanya gelap seperti malam, maka dia kuberi nama Night,” jelasnya padaku, seolah-olah nama bebek-bebek itu sangat penting bagiku. Ah, manusia macam apa Amat ini?

“Asal kamu tahu, pemilik bebek-bebek ini ialah orang terkaya di kampungnya. Saking kayanya, Pak Amin, pemilik bebek-bebek itu mampu menikahi wanita luar negri yang bernama Helen. Sayangnya, pasangan itu mandul, jadi sampai umur 50 tahun pun, Pak Amin masih tidak mempunyai anak. Tapi Pak Amin malah senang tak punya anak, karena menurut beliau itu akan memperkecil pengeluarannya.

Tanah Pak Amin sangat luas. Dan ternak-ternaknya bukan cuma bebek-bebek ini, tapi masih baaaaanyak lagi. Ada ayam, burung, kambing, sapi, ikan nila,…….” Kata-kata tentang gambarnya itu terus berkeluaran dari mulutnya. Dia menjelaskan dengan penuh perasaan dan penghayatan, seakan aku peduli, seakan aku mendengarkan.

Dan sejak saat itulah, aku dan Amat akhirnya menjadi dua sahabat yang sama-sama suka menggambar.

“Aku janji, sore ini aku akan menggambar sapi-sapi milik Pak Amin dan malam ini kambing-kambingnya, besok subuh ayam-ayamnya, siang besok burung-burungnya, dan sore besok ikan nila-ikan nila milik beliau. Kamu tenang saja, ya!” Katanya lagi.

*****

Di pesantren ini, antara magrib dan isya diisi dengan pembacaan Al-Qur’an. Pada saat itu, staf OSIS akan kontrol di Mushalla dan akan menyanksi santri yang ketahuan tertidur, mengobrol, bercanda, dan hal-hal lain selain membaca Al-Qur’an.

Akan tetapi, malam ini lain. Staf OSIS semuanya pergi ke undangan, sehingga tidak ada yang kontrol di Mushalla.

“Mat, malam ini nggak ada yang kontrol. Staf OSIS semuanya ke undangan,” bisikku pada Amat yang ada di samping kiriku.

“O… Pantas….”

Lalu dia menutup Al-Qur’annya dan membuka buku tebal berwarna merah yang tadi dia duduki. Di buku itulah dia menggambar. Aku pun melakukan hal yang sama, mengeluarkan buku tebal berwarna biru dari balik sejadahku, kemudian asik menggambar.

Sekarang kami memang sudah ada kemajuan. Kami tak lagi menggambar di sobekan-sobekan kertas, melainkan di buku tebal yang kami beli khusus untuk menggambar.

Di tengah keasikan kami menggambar, secara tiba-tiba, seorang staf OSIS sudah ada di belakang kami. Dan Amat, tanpa disuruh ia langsung berdiri mengakui kesalahannya. Terpaksa aku juga ikut berdiri.

“Kenapa menggambar?” Tanya staf OSIS itu dengan wajah sangar. Pertanyaan yang tak perlu dijawab.

Kami diam, tak berani bersuara.

“Kenapa menggambar, hah?” Tanyanya lagi sambil mencengkeram bajuku. Tangannya yang satu sudah siap menampar. “Kamu kan tahu ini waktunya membaca Al-Qun’an, kenapa kamu menggambar? Tak ada waktu lain lagi, ya?”

Aku tetap diam. Terlalu bodoh bila menjawab pertanyaan itu. Staf OSIS itu kemudian melepaskan bajuku, lalu beralih ke Amat.

“Kamu juga! Kenapa kamu menggambar?” Wajah staf OSIS itu semakin sangar. Kemarahannya siap meledak.

Amat tampak berpikir, lalu mulai bicara.

“Ya… karena saya suka sekali menggambar. Bagi saya, menggambar itu adalah…”

Bugg !!!

Dasar Amat goblok! Satu tamparan mendarat di pipinya.

“Berdiri kalian berdua di depan sana! Pamerkan gambar kalian!”

Maka jadilah kami tontonan gratis yang menggelikan bagi semua santri Pondok Pesantren Al-Karamah Putera. Aku dan Amat berdiri di depan sambil memegang buku yang isinya diperlihatkan pada semua santri. Syukurlah gambar yang kupamerkan hanya pesawat tempur. Namun tahukah kau gambar apa yang dipamerkan Amat? Begitu menggelikan! Coba kau bayangkan, gambar cewek jelek yang roknya tertiup angin, sehingga celana dalamnya terlihat! Bayangkan juga orang yang memperlihatkan gambarnya itu, tubuh kurus dan tinggi, kulit hitam, rambut keriting, dan wajah mengenaskan dengan gigi yang besar-besar!

Anehnya, Amat menikmati hukuman yang sungguh sangat amat memalukan ini. Dari wajahnya yang dingin, jelas sekali bahwa dia tengah berbangga diri dengan gambar karyanya itu. “Lihatlah gambar buatanku ini! Sangat bagus bukan?” Mungkin itulah yang ada di pikiranya.

Ah, memang sangat aneh sahabatku ini. Sadarkah ia bahwa saat ini dia sedang disanksi?

*****

“Mat, kita dapat undangan seminar lagi,” ujarku pada Amat yang sedang duduk membaca majalah di atas sofa. Aku pun segera duduk di sampingnya.

Kami berdua sedang berada di kantor gedung yang kami beri nama ‘Sanggar Komik’. Gedung ini adalah sumbangan dari pemerintah provinsi sebagai penghargaan bagi kami yang sudah banyak menghasilkan komik dan sebagai tempat pembinaan bagi para komikus muda.

Gedung ini terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar dijadikan perpustakaan, lantai dua untuk tempat pelatihan, dan lantai tiga sabagai kantor.

“O ya, undangan dari mana?”

“Dari Mandastana International School. Nih…,” jawabku sembari menyerahkan undangan pada Amat. Di Sanggar Komik ini, Amatlah yang jadi pimpinannya.

Kesuksesan kami ini bermula saat Amat meminjam komik islami dari teman kami.

*****

“Heri, coba kamu lihat komik ini! Ini buatan orang Indonesia, berarti kita pun bisa!” Cerah sekali wajahnya. Gembira sekali hatinya. “Gimana kalau kita hubungi penerbitnya?”

“Emangnya kamu pikir menerbitkan komik itu mudah? Ini komik, bukan cerpen atau novel!” Komentarku membuyarkan harapannya.

Tapi Amat tetap tak bergeming.

“Jangan menyerah dulu, kawan! Kita harus mencobanya…!” Hebat sekali dia menasehatiku, padahal gambar buatannya lebih jelek dari gambar buatanku.

Dia pun ke wartel untuk menelpon penerbit komik itu.

“Gimana?” Tanyaku sinis campur pesimis sekembalinya dari wartel.

“Katanya, kita tinggal mengirim komik buatan tangan kita, nanti mereka akan memberitahu kita apakah diterima atau tidak,” jawab Amat berapi-api.

“Kamu sudah tanyakan apa saja syaratnya?” Selidikku.

“Belum…” Pelan dia menjawab.

“Ah, bodoh kamu!”

Setelah tahu cara dan syarat-syaratnya, kami pun mulai menggambar komik. Dalam waktu dua bulan, komik yang kami beri judul ‘The Zest’ itu sempurna.

Komik itu menceritakan sebuah pesantren yang diselundupi mata-mata Zionis. Adul, sang tokoh utama komik itu yang selain jadi santri, juga sebagai anggota organisasi islam rahasia bernama BIF, berusaha keras menyelidiki penyelundup itu. Akhir penyelidikannya menyimpulkan bahwa ada 75 penyelundup Zionis yang ada di pesantrennya itu. Dengan penuh perjuangan, akhirnya 75 penyelundup itu bisa dipenjarakan. Namun tanpa Adul sadari, di pesantren itu ternyata masih ada seorang penyelundup lagi yang sangat membahayakan umat Islam. Dan penyelundup itu ternyata Munir, teman karibnya sendiri yang nama aslinya ialah Zoro.

Kami kemudian mengirimnya, meski aku tahu bahwa komik itu tidak mungkin diterima, alias ditolak!

Sebulan setelahnya, keajaiban terjadi. Penerbit itu menelpon pesantren kami.

“Komik kalian berdua akan kami terbitkan, dan honornya akan kami kirim lewat wesel. Kami berharap, kalian berdua kembali mempercayai penerbit kami untuk ‘The Zest’ volume ke-2.”

Tak bisa kuceritakan bagaimana gembiranya kami, terutama Amat.

*****

“Untuk membuat komik itu, yang paling penting yang harus kalian miliki ialah kesabaran. Baiklah, sahabat saya Heri akan menceritakan bagaimana perjuangan kami waktu masih di pesantren dulu.” Suara Amat terdengar jelas di seluruh ruangan seminar yang sangat luas dan dipenuhi peserta seminar ini. Semangatnya berkobar-kobar namun wajahnya tetap tampak santai.

Lalu aku pun menceritakan tentang perjuangan kami untuk menjadi komikus handal, tentunya tak ketinggalan cerita sanksian yang menimpa kami dulu. Semua peserta seminar yang memenuhi ruangan ini menyimaknya sambil tertawa terpingkal-pingkal. []

Iklan

3 pemikiran pada “Memoar Komikus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s