Kesungguhan Cinta

2-3-2010

“Boleh ya, Ma…,” rengekku pada mama, “Martapura nggak jauh-jauh amat juga kok…” sambungku dengan sedikit argumen.

“Martapura itu jauh. Apalagi kalo setiap hari harus bolak-balik. Pemborosan!” Mama tak mau kalah.

“Tapi Irfan kan bisa sewa rumah di sana, Ma..”

“Mama malah hawatir kalo kamu tinggal sendirian. Lagian kamu ini Fan, kenapa kamu tidak cari yang baru saja? Masih banyak yang lebih cantik dan lebih baik daripada Winda…”

“Aduh, Ma… Winda itu kan pacar Irfan sejak kelas satu SMP, masa harus putus cuma gara-gara pindah sekolah…?”

“Ya nggak usah putus. Kamu kan bisa ke rumahnya seminggu sekali?”

“Kalo gitu Ma, nanti dia nggak ada yang ngontrol. Bisa-bisa dia malah selingkuh sama cowok di sana…”

“Yah, baiklah kalo gitu. Nanti kalo Papa pulang, Mama rundingin.”

“Yesss,” teriak hatiku lega. Wajah mama cemberut karena kalah berdebat.

6-3-2010

Teng… teng… teng…

Lonceng tanda istirahat berbunyi. Ya, lonceng. Bukan bel seperti di sekolahku sebelumnya. Para siswa berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. Ada yang ke WC, ke perpustakaan, ke kantor, ke ruang BP, dan yang paling banyak ke kantin. Termasuk di antara yang banyak itu, aku dan tiga teman baruku.

“Kalian silakan makan sepuasnya, gue yang nraktir…!” Seruanku disambut meriah oleh Dedi, Ilham dan Wahyu. Mereka langsung memesan bakso dan mengambil beberapa bungkus cemilan.

“Fan, kamu pindah ke sini sebenarnya kenapa sih?” Ilham memulai pembicaraaan. Air teh yang dihidangkan Amang Dulah segera diaduknya agar gula di dalamnya merata.

“Iih Fan, padahal sakulah ikam SMAVEN itu sakulah papurit di Banjarmasin…” Wahyu ikut nimbrung dengan logat Banjarnya yang masih kental.

“Pacar gue pindah ke sini, jadinya gue juga pindah.”

“Gila kamu ini Fan! Masa cuma gara-gara cewek pindah sekolah kamu juga ikut pindah. Kamu kan bisa cari yang baru lagi di sana,” protes Ilham.

“Dia itu beda,” sanggahku setelah meneguk Fanta yang sudah dituang di gelas dengan sebongkah es, “Gue gak bisa cari cewek lain sesempurna dia,” sambungku kemudian.

“O.. jadi jadi cewek manis yang kemaren baru gue liat itu pacar lu…?” Kali ini Dedi yang bertanya.

“Iya, barangkali. Gue kan gak liat cewek mana yang lu liat itu,” jawabku tenang menghadapi ketiga temanku yang masih tidak percaya.

“Kalo Winda, pindah ke sini kenapa?” Ilham kembali bertanya.

“Gini Ham, ayahnya itu TNI, beliau dipindah tugaskan ke Martapura, jadinya mereka sekeluarga juga pindah supaya nggak capek bolak-balik. Tapi katanya cuma dua tahunan, setelah itu kembali lagi ke Banjarmasin.”

“Hei, Fan! Cewek lu itu yang itu kan?” Selidik Dedi sambil menunjuk seorang cewek yang sedang pesan bakso.

“Mana?” Tanya Ilham pada Dedi. Ingin tahu juga rupanya Ilham dengan pacarku.

“Itu, yang lagi mesan bakso,” Dedi kembali menunjuk cewek tadi.

“Iya, bener,” jawabku menengahi rasa penasaran mereka. “Kalian tunggu bentar ya… !” Aku pun berjalan mendekati Winda.

“Hai sayaaaang…”

“Eh, Irfan. Gimana tadi perkenalan dirinya?”

“Sukses… Eh, Win, ikut yuk?”

“Ke mana?”

“Ke sana.” Tanganku menunjuk ke arah teman-temanku. “Aku mau ngenalin kamu sama mereka.”

“Boleeeh…” jawabnya dengan senyumnya yang selalu manis dan teramat manis.

“Gimana?” Tanyaku pada ketiga temanku setelah selesai memperkenalkan Winda pada mereka dan Winda sudah bergabung dengan teman-teman ceweknya.

Wahyu mengacungkan jempol. Mulutnya tersenyum. “Mun aku nang jadi pacarnya, biar inya sakulah ka bulan tatap ai jua kuumpati,” pujinya.

“Memang betul-betul sempurna !” Aku Ilham.

7-3-2010

“Ah, lega…” Dari tadi aku menahan kencing, karena sebelum istirahat tadi mata pelajaran Sosiologi, Pak Mustafa! Jangankan minta izin ke WC, bersuara sedikit saja kalau ketahuan beliau maka tamparan keras menuju pipi akibatnya. O iya, aku baru ingat. Dedi, Ilham dan Wahyu sudah menungguku dari tadi di kantin. Segera aku menuju kantin dengan setengah berlari.

Bruukk !!!

Seorang cewek berjilbab yang tiba-tiba keluar dari perpustakaan, jatuh terduduk karena bertabrakan denganku. Buku-buku tebal bawaannya jatuh berserakan di lantai. Buku-buku tebal itu semuanya tentang kesehatan.

“Sori… sori… gue tadi gak sengaja… sori ya !” Kupegang tangannya untuk membantunya bangun, namun dia menolak dan memilih berdiri sendiri. Buku-bukunya yang berserakan kukumpulkan. “Nih, buku lu. Sori ya! Gue betul-betul gak sengaja…” Sekilas kulihat wajahnya yang tampak menahan rasa sakit. Cantik. Cantiiik sekali! Apalagi ditambah balutan jilbab putih yang mengelilingi wajahnya yang juga putih, membuatnya semakin anggun. Matanya teduh memancarkan kedamaian.

“Nggak papa. Terima kasih…” Katanya sambil menerima bukunya yang kuserahkan.

Kurasakan atmosfer yang lain dari biasanya, dari semua cewek cantik yang pernah kutemui, bahkan Winda! Dia lebih sempurna daripada Winda. Seketika itu juga sebuah ‘perasaan aneh’ manyusup ke dalam hatiku. Perasaan itu menghilangkan semua yang ada di sana. Ya, aku jatuh cinta padanya. Aku ingin jadi pacarnya, ah bukan, aku ingin jadi miliknya!

Kemudian dia langsung pergi meninggalkanku yang masih tersihir oleh pesonanya. Aku terus memandanginya hingga tubuhnya hilang ditelan pintu kelas XI IPA B.

“Kalian kenal gak sama cewek cantik yang pake jilbab di sekolah ini?” Aku memandang wajah ketiga temanku bergantian dengan mimik serius.

“Kalau cewek cantik berjilbab sih banyak. Emang kelas mana, Fan?” Wajah Ilham tidak serius seperti aku. Santai. Lalu dia kembali menyendok pentol dalam mangkok baksonya.

“Eee…, kalo gak salah kelas XI IPA B.”

“Di kelas itu juga banyak , Fan yang cantik en pake jilbab.”

“Dia suka ke perpus, Ham,” tambahku segera, masih dengan wajah yang serius.

“Kalas XI IPA B, langkar, bajilbab, katuju ka parpus, Samiyah…! Kada salah lagi, pasti Samiyah,” tebak Wahyu.

“Samiyah…,” aku mengulang nama yang disebut oleh Wahyu tadi. Bakso di hadapanku masih belum tersentuh.

“Emang kenapa, Fan? Lu naksir ya?” Selidik Dedi santai.

Aku hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan Dedi. “Mungkin,” tegasku kemudian.

“Terus, Winda cantikmu itu diapakan? Sudah jauh-jauh pindah sekolah demi Winda, masa dibuang gitu aja?”

“Entahlah, Ham… Aku juga bingung. Masalahnya cewek itu lebih sempurna daripada Winda.”

“Tapi Fan, jangan ikam kira mandapatakan Samiyah tu nyaman!” Wahyu mewanti-wanti.

“Emang kenapa, Yu?”

“Dahulu aku sa-MTs lawan inya. Asal ikam tahu haja, inya tu kada suah pacaran saumur-umur. Jangankan pacaran, duduk batatai lakian haja inya indah…”

“Kalo berdiri?”

“Sama ai jua, hungang!!!” Wahyu jengkel.

“Gak papa. Gue malah makin naksir sama dia, gue makin tertantang!” Aku tersenyum. Dedi melongo, mirip huruf O. Wahyu geleng-geleng. Ilham meletakkan jarinya di dahi, “Memang sudah gila,” begitulah mungkin maksudnya.

14-3-2010

“Sayang, sore ini temenin aku ke Mall, ya?” Pinta Winda saat aku baru sampai ke sekolah.

“Wah, kayaknya nggak bisa. Hari ini aku harus beres-beres rumah, soalnya besok Mama sama Papa mau ke rumah.” Kami berjalan berdampingan menuju kelas.

“Kamu kenapa sih, say? Akhir-akhir ini kamu berubah!”

“Aku nggak berubah. Masih kayak dulu. Masih pacar kamu…”

“Nggak! Kamu sudah berubah. Kamu nggak lagi perhatian, kamu nggak lagi romantis, kamu nggak lagi mau luangin waktu buatku, kamu nggak lagi…”

“Sayaaang!!!” Kuhentikan langkahku, lalu kupalingkan badanku menghadapnya. Kedua tangannya kugenggam, “… aku nggak berubah, tapi aku memang bener-bener sibuk… Oke, Win, nanti malam aku ke rumah kamu, kita jalan-jalan…” ucapku sambil menatap matanya lekat-lekat.

“Bener?”

“Iya.”

“Janji?”

“Iya. Senyum dulu dong…!”

Malam ini, setelah mengajaknya makan di KFC, kubawa Winda ke Banjarmasin.

“Ke mana?” Tanya Winda. Malam ini dia cantik sekali dengan kaos ketat panjang berwarna hitam. Di bagian dadanya tertulis ‘Always Love You’. Tulisan itu berkilauan terkena cahaya lampu. Cocok sekali dengan kalungnya yang bermatakan hati.

“Kamu tenang saja…” jawabku pelan.

Honda Jazz-ku terus melaju. Kulihat jam mobil sudah menunjukkan pukul delapan lewat, sedang kami baru di Banjarbaru. Kami melewati bundaran Banjarbaru. Bundaran itu tampak megah karena baru selesai direnovasi. Cahaya lampu yang berwarna-warni menghiasi tugu di tengah-tengah bundaran itu yang tinggi menjulang.

Jam setengah sebelas barulah kami sampai di Banjarmasin, di taman depan SMP Harapan Banua, SMP tempat kami sekolah dulu. Di sebelah taman itu ada sungai yang berkilauan terkena cahaya lampu.

“Masih ingat tempat ini?” Tanyaku.

“Di sini kita pertama kali kenal, saat kita rebutan beli pentol, lalu tomatnya tumpah ke baju kita…” jawabnya dengan senyum yang mengembang.

“Bukan cuma itu…”

“Ya, di sini juga tempat dulu kamu nembak aku dan aku langsung nerima kamu…”

“Sayang, coba kamu lihat bintang-bintang di atas sana, indah bukan?”

“Iya, indah sekali. Sungai itu juga indah sekali dengan pantulan cahayanya.” Winda menjawab pelan. Disandarkannya kepalanya di bahuku.

Semoga saja yang kulakukan ini cukup untuk membuatnya tidak lagi curiga denganku.

20-3-2010

Perjuanganku mendapatkan cinta Samiyah semakin menjadi-jadi. Berbagai macam ‘cara standar’ untuk mendapatkan cewek sudah kulakukan, mulai dari ngasih bunga, ngasih boneka, ngirim puisi, menaruh kado di atas mejanya, de el el. Berita tentang perjuanganku itu dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dan pelosok SMA Pandulangan Martapura – sampai-sampai satpam penjaga gerbang sekolah pun tahu – , tak terkecuali Winda.

Pagi ini dia marah-marah kepadaku setelah membaca tulisan di mading: “Si Tajir Irfan Mati-Matian Ngejar Si Alim Samiyah Dengan Hasil Nihil, Gimana Si Manis Winda?”. Fotoku saat menyerahkan bunga pada Samiyah terpampang di sana dengan ukuran 8r, di sampingnya foto Winda yang sedang duduk di bangku dengan wajah murung. Ukurannya setengah lebih kecil, 4r !

“KENAPA KAMU TEGA, FAAAN…?” Teriaknya lantang. Aku tidak tahu kata-kata apa yang mesti keluar dari mulutku. “Sekarang aku tahu sudah kenapa kamu berubah… APA ARTI CINTA KITA SELAMA INI? Oke Fan, kalo memang itu yang kamu mau. Mulai sekarang KITA PUTUS…” Tak bisa lagi kubendung kata-katanya. Kemudian dia pergi meninggalkanku dengan air mata yang berjatuhan di pipinya. Sebelum pergi dia melemparkan gelang pemberianku yang selalu dipakainya sejak SMP.

Dia terus meninggalkanku, dan sekarang tidak lagi dengan berjalan, melainkan berlari. Tangannya sesekali menyeka pipinya yang basah oleh air mata. Aku diam saja, tidak bisa bicara apa-apa dan juga tidak mengejarnya. Meski aku berhasil mengejarnya, apa yang harus kukatakan. Kesalahanku sudah jelas. Maafkan aku Winda…

21-3-2010

“Miyah, apalagi yang harus kulakukan supaya kamu ngerti kalo aku beneran suka kamu. Terimalah aku, Miyah! Aku sungguh-sungguh…” suaraku nyaring, karena jarak aku berdiri dengannya dua meter, tidak bisa lebih dekat lagi.

“Irfan! Sebaiknya kamu berhenti memaksaku jadi pacar kamu, aku gak mau pacaran. Dan gara-gara kamu aku jadi dipermalukan!” Suaranya tidak kalah nyaring. Semua pengunjung perpustakaan menatap kami marah. Lalu Samiyah pergi, mungkin ia malu.

Tidak papa. Semangatku tidak akan luntur cuma gara-gara ini. Sore ini aku akan ke rumahnya dan bilang terus terang pada orang tuanya.

Dan sore ini aku benar-benar ke rumahnya. Tidak sulit mencari rumah besar bercat hijau dengan nomor 75 di kelurahan Tabing Rimbah itu. Kupencet bel yang ada di samping pintu. Sejurus kemudian pintu dibuka dan Samiyah tampak di ambang pintu.

“Ngapain kamu ke sini?” Jelas sekali bahwa dia jengkel.

“Aku mau ngomong sama orang tua kamu kalo ak…”

“Mereka gak ada,” potongnya segera sambil menutup pintu.

Sebelum pintu ditutup, “Samiyah, aku sungguh-sungguh mencintai kamu. Sumpah!”

“Irfan, cinta yang sungguh-sungguh itu cuma ada setelah pernikahan.” Dia menjawab dengan pelan namun jelas. Pintu kemudian ditutup keseluruhan.

3-1-2014

Dosen terus menerangkan tentang seluk beluk operasi. Sesekali beliau melucu, dan para mahasiswa dan mahasiswi tertawa terpingkal-pingkal, termasuk Samiyah. Tidak denganku, tak satu pun kata dari dosen yang singgah di kepalaku. Kata itu cuma numpang lewat, masuk dari telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan.

Perhatianku hanya satu, Samiyah! Tangan kananku menyangga dagu, dan mataku memandang lurus ke arah Samiyah. Ah, cantik sekali dia. Makin hari makin cantik. Rasanya tak ada yang lebih cantik dari dia. Bagiku dia seperti bidadari.

Jam terus berputar, dan dosen terus menerangkan, hingga mata kuliah habis. Mahasiswa dan mahasiswi AKPER berhamburan pulang.

Mobil kujalankan meninggalkan area parkir AKPER Seribu Sungai menuju Duta Mall.

“Kalau yang ini berapa, Mbak?”

“Kalau yang itu lebih mahal, Mas. Harganya tiga belas juta lima ratus ribu. Yang itu matanya menggunakan batu zamrud asli.” Pelayan toko permata itu kembali mengeluarkan cincin yang kutunjuk.

“O… jadi yang lainnya palsu ya?” Candaku pada pelayan tadi, maksudnya supaya mudah ditawar.

“Bukan begitu, Mas. Yang lainnya itu menggunakan berlian, tidak zamrud seperti yang itu.”

Aku hanya tersenyum. Cincin itu kuamati dengan teliti. Bagus, cocok dengan Samiyah yang suka warna hijau.

“Bisa kurang, Mbak?”

“E…, baiklah. Tiga belas juta tiga ratus lima puluh ribu.”

“Nggak bisa kurang lagi, Mbak?” Pelayan itu lalu menjawab dengan menggeleng.

“Baiklah, saya beli yang ini.” Kuserahkan cincin bermatakan batu zamrud itu untuk dikemas. Lalu kuserahkan uangnya dengan pas.

“Terima kasih…” ucap pelayan itu seraya menyerahkan cincin tadi.

Sebelum pulang, aku menyempatkan singgah di toko buku. Di tempat kumpulan buku komputer, aku bertemu seseorang yang sudah lama kukenal, Dedi! Dan yang membuatku semakin terkejut ialah ternyata dia bersama Arif, temanku dulu waktu SMP.

“Hei…Irfan!” Sapa mereka berdua berbarengan.

“Lho, lu kenal Irfan juga ya?” Tanya Dedi pada Arif.

“Iya, dia temen gue dulu waktu SMP, Lu?” Arif balik bertanya.

“Gue temennya di SMA Pandulangan…”

Pembicaraan kami pun berlangsung seru. Dari pembicaraan itu akhirnya aku tahu bahwa Dedi dan Arif sama-sama kuliah di STMIK Banjarbaru; Ilham jadi sopir taksi jurusan Banjarmasin-Hulu Sungai; Wahyu jadi buruh bangunan; dan Winda kuliah di Jogja, di Universitas Gajah Mada. Dulu aku dan Winda memang pernah punya impian sama-sama kuliah di UGM sampai selesai S1, kemudian melanjutkan S2 dan S3 di Oxford University, Inggris.

“Terus, si Samiyah yang lu kejar-kejar sampe lu rela kuliah di AKPER itu gimana?”

“Tenang, teman…,” jawabku santai sambil mengeluarkan cincin tadi dari kotak merahnya, “Besok gue mau melamar dia…”sambungku dengan seulas senyum.

Di perjalanan pulang, HP-ku berbunyi. Kubaca SMS yang baru masuk itu:”Hai cwo..Knln dong!(^cwe imoet^)”

Dengan tegas kubalas SMS itu dengan: “Cnt yg sunggh2 cm ada stlh p’nkhn.”

Entah mengapa kata-kata dari Samiyah empat tahun yang lalu itu begitu membekas di hatiku sampai sekarang. Dan sejak itu pula aku jadi rajin mempelajari Islam.

4-1-2014

Sama seperti hari-hari sebelumnya, mataku tak pernah lepas dari gadis cantik bernama Samiyah yang duduk tak jauh di depanku. Kulihat tangannya sedang menulis penjelasan dari dosen.

Samiyah, kamu cantik luar dalam. Hari ini, Samiyah. Hari ini! Akan kubuktikan kesungguhan cintaku!

Sore ini, aku dan kedua orang tuaku berangkat ke Martapura, ke rumah Samiyah. Sepanjang jalan kurasakan seperti taman bunga yang bunganya sedang bermekaran dan menebar aromanya yang sangat wangi.

“Sebelumnya kami sangat berterima kasih pada Pak Irwan sekeluarga karena sudah mau jauh-jauh datang ke rumah kami yang sederhana ini…” ujar ayah Samiyah setelah mendengar maksud kedatangan kami dari Papa. “Dan kami merasa sangat terhormat karena Nak Irfan putra Bapak ternyata suka dengan putri kami… Namun kami banyak-banyak minta maaf Pak Irwan, karena Anda terlambat. Sekitar seminggu yang lalu Ustadz Ihsan Lc. melamar Samiyah, dan Samiyah menerimanya. Jadi sekali lagi kami mohon maaf karena tidak bisa memenuhi keinginan Bapak sekeluarga.”

Kata-kata ayah Samiyah yang lembut itu begitu tajam menusuk hatiku. Apalagi titel seseorang yang lebih dulu melamar itu, “Lc” atau License. Menandakan bahwa orang itu lulusan universitas di Timur Tengah, berbeda sekali denganku yang tak punya titel apa-apa.

“Kalau kami boleh tahu, Ustadz Ihsan Lc. itu siapa ya? Perasaan saya pernah dengar.” Tanya Papa basa-basi, juga dengan ramah lembut.

“Ustadz Ihsan Lc. itu lulusan S1 Al-Azhar Kairo, dia sering mengisi ceramah di Mesjid Sabilal Muhtadin. Dan sekarang dia tengah mengajar di Pondok Pesantren Al Falah,” jawab ayah Samiyah menjelaskan.

“Pernikahannya rencananya kapan?”

“Rencananya sih setelah Samiyah selesai kuliah dan sudah punya pekerjaan.”

“Masih banyak gadis cantik yang solehah…” hibur Mama kepadaku saat kami sudah ada dalam mobil.

“Tapi yang mau jadi istri Irfan mungkin tidak ada..” ucapku pelan. Air mataku berjatuhan

21-10-2017

Aku sedang menimang-nimang Adelia, putriku yang baru berumur 11 bulan. Di sampingku istriku, Samiyah, tersenyum melihat tingkah lucu Adelia yang tak pernah mau tertawa bila aku yang menimangnya.

Ya, Samiyah. Dua tahun yang lalu, sebulan sebelum hari yang sudah direncanakan untuk pernikahannya dengan Ustadz Ihsan Lc., temanku mengabariku bahwa Ustadz Ihsan Lc. meninggal dunia karena kecelakaan. Ceritanya, ketika beliau selesai memberikan ceramah di Mesjid Al-Mukarramah, panitia Mesjid menawarkan untuk mengantar beliau pulang dengan mobil. Namun beliau menolak, karena beliau sudah minta jemput menggunakan motor. Di tengah jalan, hujan turun dengan lebat dan ketika itu listrik padam sehingga jalanan gelap. Dari sebelah tikungan tiba-tiba muncul truk dengan kecepatan tinggi dan kecelakaan yang membawa maut itu pun tak bisa lagi dihindari.

‘Kesempatan’ itu tidak kusia-siakan. Beberapa hari setelah aku mendengar berita itu, aku melamar Samiyah. Syukurlah, berkat perubahan tingkah lakuku sejak tujuh tahun yang lalu, aku diterima.

Kami sekarang tinggal di Samarinda karena aku diberi kepercayaan oleh ayahku untuk memimpin cabang perusahaan tekstil beliau yang berlokasi di daerah ini. Sedangkan istriku, dia menjadi perawat di RSUD Samarinda, setelah minta pindah tugas dari RSUD Ulin.

Tanpa kusangka, Adelia pipis di timanganku. Saat inilah si kecil Adelia mau tertawa, atau lebih tepatnya menertawakanku. Bahkan Samiyah juga ikut menertawakan.

“Assalaamu ‘alaikum yaa akhi… yaa ukhti…” HP-ku tiba-tiba berbunyi dengan lagu klasiknya yang dibawakan oleh Opick. Terlihat di layar Arif memanggil.

“Assalamu ‘alaikum…” aku memulai pembicaraan.

“Waalaikum salam,” jawab Arif di seberang sana.

“Ada apa, Rif?”

“Ada berita besar, Fan!” Suaranya terburu-buru.“Winda pulang dari Inggris…!” Sambungnya.

“O ya, cepat sekali…”

“Dan dia bawa bayi!”

“Haah ?”

“Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata anaknya itu dibuat tanpa nikah dengan pacarnya yang orang Jerman. Tau Winda hamil, pacarnya itu malah ninggalin dia…”

“Apa ? Tau dari mana lu, Rif?

“Dia sendiri yang cerita ke gue.”

“Astagfirullah…”

“Ada yang lebih mengejutkan lagi, Fan! Dia minta gue ngawinin dia… Gimana ini, Fan ?”

“?????????” []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s