Harapan di Jembatan Barito

25 Juni 2014

Kupacu motorku 90 Km perjam. Jembatan Barito masih jauh, masih kira-kira 20 Km lagi.

Adzan ashar mengalun. Segera kuturunkan kecepatan hingga berhenti tepat di depan langgar*.

Seperti langgar-langgar yang lain, tak ada orang di dalamnya kecuali seorang muazzin yang sudah renta. Shalat berlangsung sunyi. Muazzin tadi jadi imam dan aku makmumnya. Hanya aku!

Usai shalat, kupanjatkan doa sebanyak-banyaknya pada Sang Rahman tentang hidupku, keluargaku, kuliahku, pekerjaanku, dan… jodohku.

11 Juni 2014

“Nak, usiamu sudah 26 tahun. Teman-temanmu waktu SD dulu semuanya sudah menikah. Masalah biaya jangan kamu pikirkan,” kata ibu lembut saat aku pulang ke rumah.

“Masalahnya, ulun** belum punya calon yang cocok.”

“Idah gimana? Apa dia tidak cocok? Kasian dia. Ayah dan ibunya sudah sering sekali menanyakan keadaanmu. Ayah sangat tidak enak sama mereka.” Kali ini ayah yang bicara.

Seandainya mereka tahu perempuan seperti apa yang kudambakan selama ini. Dan seandainya mereka tahu betapa sulitnya mencari perempuan yang sesuai dengan kriteriaku itu. Ah, Idah. Aku kenal betul dengannya. Dia adik kelasku waktu SD sekaligus tetanggaku. Begitu tamat SD aku masuk pesantren selama tujuh tahun. Sedangkan Idah, setamatnya di SD dia masuk SMP lalu melanjutkan SMA di ibu kota. Sekarang dia kuliah di UNLAM sambil bekerja di counter HP milik teman laki-lakinya.

Walaupun sejak lulus SD kami jarang bertemu –karena aku hanya pulang sebulan sekali– , tapi aku tahu betul tentang dia. Mana mungkin aku yang dibesarkan di alam pesantren ini menikah dengannya. Bukan karena sekolahnya, tapi karena pakaiannya. Dan sampai sekarang dia tetap saja menjajakan auratnya di tengah orang banyak. Paling-paling dia cuma menutup aurat ketika shalat. Ah, apa ia masih shalat?!

Namun tak mungkin aku mengatakan itu semua. Hati ayah terlalu keras untuk menerima alasan. Apalagi ayahku dan ayah Idah berteman sejak kecil.

“Nak, ibu tahu apa yang kamu pikirkan. Ibu tidak masalah kamu kawin dengan siapa, yang penting menurutmu baik. Ibu hanya ingin kamu segera menikah.”

Syukurlah ibu mengerti, dan ayah tak mungkin menentang ibu, kerena selama ini ibulah yang menjadi tonggak perekonomian keluarga kami.

25 Juni 2014

Jembatan Barito tinggal beberapa kilometer lagi. Jam lima sore aku tiba. Tak ada perubahan yang kutemui. Semua masih sama seperti enam tahun lalu.

24 Juni 2008

”Wahyu, besok kamu pulang kan?” Tanyaku sambil merangkul bahunya. Kupasang wajah semanis mungkin.

“Iya! Emang kenapa? Kamu mau ikut, ya…?” Selidiknya dengan muka cemberut.

“He he… tau aja kamu.”

“Terus, nginapnya di rumahku gitu?” Jelas sekali bahwa dia kesal.

“Yup. Gimana? Boleh kan…?:” Wajahku semakin manis.

Sejenak ia berpikir.

“Ya sudah, boleh deh. Asal, kamu harus merapikan kamarku selama kamu nginap!”

25 Juni 2008

Kami sampai di rumah wahyu jam empat sore. Setelah berbincang-bincang dengan orang tua Wahyu, mandi, dan shalat ashar, aku berjalan menuju jembatan Barito. Antara rumah Wahyu dan jembatan Barito cuma setengah kilometer. Di saku celanaku, kamera digital dengan 10 megapixel sudah stand by. Ya, tujuanku ke sini memang untuk itu, memotret objek-objek indah di sekitar jembatan Barito, teruatama sunsetnya.

Kuhentikan langkah. Satu jepretan kutembakkan dari bawah jembatan. Lalu kufoto dari samping kapal tongkang yang mengangkut tumpukan batu bara. Kemudian kuarahkan kamera ke Pulau Bakut dengan 5X zoom. Kawanan bekantan yang bergelayutan di pohon akasia ikut menghiasi foto itu. Seorang perempuan tua yang sedang naik ke perahu kecil juga tak lepas dari bidikan kameraku.

Puas memotret-motret di bawah jembatan dan tepian sungai, aku pun berjalan menuju atas jembatan.

Matahari telah hampir masuk ke peraduannya. Dengan amat perlahan, menurutkan perintah dari penciptanya. Ia berangsur turun. Cahaya merah telah mulai terbentang di ufuk barat, dan bayangannya tampak memperindah wajah sungai yang tenang. Suasana jalan telah sunyi, hanya satu-dua kendaraan yang melintas. Inilah waktu yang kunanti-nantikan.

Kuarahkan lensa ke tepian jembatan yang panjangnya satu kilometer lebih ini dan, tanpa sengaja, seorang wanita yang terlihat masih remaja tertangkap oleh kameraku. Dia tampak berpikir, lalu menyelusup pagar pembatas.

Aku langsung berlari menghampirinya.

“Jangan…!!! Jangan…!!!” Sergahku dengan berteriak. Namun teriakanku dari jarak 70 meter itu tak mungkin didengar olehnya.

Aku terus berlari dan sekarang aku sudah jelas melihatnya. Wajahnya cantik dan rambutnya terkibar-kibar dihembus angin senja.

“Jangan…!!! Jangan…!!!” Teriakku lagi.

Kini gadis itu sudah siap melompat!

25 Juni 2014

Kuparkir motorku di bawah jembatan, lalu berjalan ke atas sembari memotret-motret suasana sekitar. Semuanya memang tidak berubah, masih tetap sama seperti dulu.

Kuarahkan kamera ke tepian jembatan dan, seperti enam tahun lalu, seorang wanita tertangkap oleh layar kameraku. Namun tak seperti gadis enam tahun lalu. Dia adalah seorang wanita berjilbab yang berdiri mematung memandang matahari yang kian turun.

Kudekati wanita itu, dan tentu saja tak perlu dengan berlar-lari karena wanita yang seperti itu tak mungkin ingin bunuh diri. Sesuai dugaanku, wanita itu adalah gadis enam tahun yang lalu! Meski sudah lama sekali, tapi aku tak mungkin lupa dengan wajah cantiknya itu.

“Lama ya tak bertemu,” sapaku seraya berpaling ke arah matahari tenggelam. “Dan akhirnya kita bertemu juga,” lanjutku.

“Ah, kamu ya! Apa kabar?” Tanyanya.

“Sangat buruk. Tapi mungkin setelah berjumpa kamu ini akan menjadi baik. Kamu sendiri?”

“Seperti yang kamu lihat, banyak perubahan yang kulakukan. Dan semuanya, karena kamu.”

“Aku senang.”

Sejenak kami membisu.

“Seberapa sulit?” Tanyaku lagi.

“Sebesar kemampuanku. Seperti katamu waktu itu, Allah tak akan memberikan masalah yang tidak sesuai dengan kemampuan kita.”

25 Juni 2008

“Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu tak merasakannya!” Sanggahnya dengan lantang atas nasehatku.

“Allah tak akan memberikan masalah yang tidak sesuai dengan kemampuan kita.”

Dia diam meresapi ucapanku.

“ALLAAHU AKBAR.. ALLAA…HU AKBAR…”

Adzan berkumandang. Magrib tiba. Matahari hanya menyisakan goresan jingganya di kanvas langit.

“Sudahlah. Shalat magrib jauh lebih baik daripada melakukan hal konyol seperti itu!”

Dia pun perlahan kembali memasuki pagar pembatas tepi jembatan. Niat bunuh dirinya dia urungkan, lalu berjalan mengikutiku yang sudah beranjak meninggalkannya menuju langgar.

Usai shalat di langgar, kuajak dia ke rumah Wahyu. Lalu adiknya Wahyu yang perempuan mengantarkannya pulang.

25 Juni 2014

“Ayah yang ingin menjualmu itu sekarang bagaimana?”

“Dia sudah meninggal.”

“Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un. Kenapa?”

“Dibunuh oleh teman main judinya…”

Pembicaraan kami terus berlanjut, hingga bulatan matahari sepenuhnya tenggelam di balik pepohonan galam.

“Kamu sudah menikah?” Tanyaku dengan segenap harap.

“Sudah…”

Yah, ternyata dia memang bukan jodohku. Mungkin perlu waktu bertahun-tahun lagi mencari wanita yang sadar dengan haramnya membuka aurat.

“ALLAAHU AKBAR.. ALLAA…HU AKBAR…” []

*Langgar: Mushalla/Surau

**Ulun : Saya (bahasa Banjar yang halus)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s