
Sejak kecil hingga bangku tsanawiyah di pesantren Al Falah, saya selalu beranggapan bahwa Muhammadiyah adalah “agama” yang menyimpang. Mungkin karena begitu kuatnya doktrin tersebut kepada saya. Dan kenyataannya orang-orang di sekitar saya memang selalu menasbihkan hal demikian.
Seiring bertambahnya usia serta ilmu yang diajarkan, Lanjut membaca
Arsip Kategori: Renungan
Pribahasa Banjar (mun kawa tambahiakan)
1. Handak bangkung langsat tadapat bangkung durian (ingin isteri yang cantik yang didapat isteri yang jelek)
2. Di banua saurang kaya macan, di banua urang kaya acan (beraninya cuma di lingkungan sendiri)
3. Kaya burung bilatuk manabuk luang (orang yang kerja keras)
4. Kaladi maucap birah (mencerca orang yang lebih itnggi martabatnya)
5. Sudah tacalubuk kadua balah batis (terlambat) Lanjut membaca
Belajar Kebaikan dari Siapa Saja
Pagi ini aku datang ke kampus agak telat. Memang, masih belum terlambat, tapi parkir di depan kampus 2 STIKES MB (Muhammadiyah Banjarmasin) sudah penuh. Maka seperti biasa, aku pun memarkir Mio putihku di halaman bangunan yang berada tepat di samping kampusku: Gereja Eben Ezer!
Tak kusangka, sewaktu kecil dulu, aku yang seorang muslim dengan orang tua dan keluarga muslim, serta lingkungan yang Islam, selalu ngeri bila melihat bangunan dengan atap tinggi itu. Tapi sekarang, hampir tiap hari Lanjut membaca
Jika Memang Saya Punya Obsesi
(Tugas mengarang dari kakak kelas saat OPT dengan tema “Obsesiku Masuk Stikes Muhammadiyah Banjarmasin”)

Sejak kecil, saya selalu dibatasi untuk bermimpi. Kedua orang tua saya, hanyalah PNS berpangkat rendah yang tugasnya menjadi guru SD di desa saya, sebuah desa yang teramat kecil dengan populasi penduduk yang juga sangat rendah, yang dari namanya saja sudah tergambar kemelaratannya: Puntik Dalam.
SD tempat kedua orang tua saya mengajar adalah SD satu-satunya di kampung kami. Satu kelas, muridnya berjumlah rata-rata tiga orang. Ah, mungkin lebih meyakinkan bila saya tulis dengan angka saja: 3! Bila beruntung, satu kelas bisa mencapai enam orang. Namun jika tidak, maka murid dan guru akan menjadi layaknya sebuah pertandingan bulu tangkis single. Lanjut membaca
Selamat Tinggal Al Falah
Tujuh tahun sudah, kujalani kehidupanku sebagai santri Pondok Pesantren Al Falah. Mengaji Kitab Kuning, shalat berjamaah, disanksi, kehabisan air, makan di kantin, bahapakan, menjarah kiriman milik teman, sandal hilang. Ah, kini selesai sudah semua itu. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat, dan hidup dikurung selama tujuh tahun bukanlah hal mudah. Aku ingat, di tahun pertamaku di Al Falah, teman satu angkatan ada 300 orang lebih, dan sekarang yang tertinggal sampai kelas 3 Aliyah cuma 104 orang. Ke mana yang 200 orang lagi?
Tujuh tahun juga telah memberiku banyak pelajaran hidup, salah satunya tentang arti prestasi sesungguhnya. Lanjut membaca