Jalan Pulang

Mencakar damai, menyusur kabut;

di sana bersarang mimpi beserta sayap-sayapnya

Terkulai, mengendap, menyublim

Dalam tidur yang sama, dijumpa lagi peradaban beserta langitnya

Dan tanah yang membatu

Di matamu, sebuah sumur dengan kedalaman yang berkilau

Meretas pergumulan panjang, menanak keheningan paragrafmu

Telah usai narasi beku

Menjadi elegi musim kemarau

Menjadi jalan setapak panjang untuk aku pulang

Puntik Dalam, September 2011

(Radar Banjarmasin, Minggu, 9 Oktober 2011)

Khadam (Hendak) Jadi Raja Mamanda

“Sauuuuudara…!”

biola menyayat

mangkubumi telah berhkianat

apalah makna permadani hijau yang membentang

segala maka harus tepat di sidang

antara harapan pertama kedua juga

baladonmu tak jadi doa

tongkatmu lepas begitu saja

tombakmu tak bisa tusuk apa-apa

hanya ratu dan putri meregang luka

khadam-diang rebah makan tanah

panglima perang tak pernah kalah

ikutlah menari-nyanyi duhai wazir

nasehatmu tadi kata terakhir…

raja kita raja kafir!

“Bujur banar…. Tarusakannnn!”

namun lampu pentas telah mati

Marabahan, Juli 2011

(Radar Banjarmasin, Minggu, 9 Oktober 2011)

Menunggu Makan Malam

Izinkan lelah menitik nadinya, petang

Kilatan-kilatan yang mengintai, sewarna darah dan nanah

Uh, lama-lama kita harus meringkuk dalam

Meringis atau merintih

Ini senja yang ringkih

Kenapa kita tidak sepakat saja, tentang masa lalu yang binal

Dalam solilokui

Suara dan gumam saling membunuh

Berlelah-lelah untuk pentas keabadian yang entah

Bergerilya bagi rasa resah

 

Handil Bakti, 7 Oktober 2011

(Radar Banjarmasin, Minggu, 9 Oktober 2011)

Dialog

Di awal sajak kita berbincang

Kau lahir dari rahim hampa

Lalu tumbuh di dermaga sepi

Pada petala langit, kau eja lagi mimpi tadi malam

Hujan yang basah

Matahari yang meleleh

Dan kota-kota angin telah mencerabut kata-kata yang kau susun dalam sajak

Dalam hutan dan sungai

 

O, jalanan menjadi arus bersama kecipak-riak

Di sisi bangku taman itu, bunga-bunga menyemai harum kelopaknya

Dialog kita sampai hingga klausa tervulgar

Kalimatmu terhenti pada raung motor yang tumpah

“Topan sudah mengotak-ngotakkan tanahku”

 

Gunung merendah, gedung membuncah

Lalu kau turunkan sunyi ini

Dalam dialog yang sama, kita merapatkan kalimat-kalimat lagi

 

Marabahan, Juni 2011

(Dalam buku Balian Jazirah Anak Ladang, sebagai 30 puisi nominasi Aruh Sastra Kal Sel VIII 2011)

Belajar Baca Puisi di Tadarus Puisi 2011

Bersama Arief Rahman (Itay), dini hari itu aku membacakan puisi karya alm. Eza Thabri Husano yang berjudul Elegi Musim.

menangkis tusukan cinta yang tak bersih. musim amis (Itay)
aku membasuh sayap mimpi di karat sunyi (aku)
kau peluk habis musim bergaun airmata (Itay)
aku berjuntai damai menaksir maut (aku)
kau kehilangan jejak mengemis takdir waktu (Itay)
aku mengganggang nyala api di tungku batu (aku)
rindu-dendam tak usai mengucapkan narasi cinta (Itay)
aku melayat puisi untuk matamu yang terluka (aku)
kanan-kiri suara saling menghardik-menusuk (Itay)
aku menepi melupakan suara dan jarum tusukan (aku)
sebuah lakon tragedi di di pentas airmatamu (Itay)
aku sebuah monumen silam tanpa haru (aku)
penyair musim-penyair pisau belati! (Itay)
aku tak sedang meludahi perjalanan matahari (aku)

Lanjut membaca