Belajar Baca Puisi di Tadarus Puisi 2011

Bersama Arief Rahman (Itay), dini hari itu aku membacakan puisi karya alm. Eza Thabri Husano yang berjudul Elegi Musim.

menangkis tusukan cinta yang tak bersih. musim amis (Itay)
aku membasuh sayap mimpi di karat sunyi (aku)
kau peluk habis musim bergaun airmata (Itay)
aku berjuntai damai menaksir maut (aku)
kau kehilangan jejak mengemis takdir waktu (Itay)
aku mengganggang nyala api di tungku batu (aku)
rindu-dendam tak usai mengucapkan narasi cinta (Itay)
aku melayat puisi untuk matamu yang terluka (aku)
kanan-kiri suara saling menghardik-menusuk (Itay)
aku menepi melupakan suara dan jarum tusukan (aku)
sebuah lakon tragedi di di pentas airmatamu (Itay)
aku sebuah monumen silam tanpa haru (aku)
penyair musim-penyair pisau belati! (Itay)
aku tak sedang meludahi perjalanan matahari (aku)

Lanjut membaca

Musim Katam

Lakasi kita irik
Banih kuning maamas
Tampilainya dikapinggirakan

Jangan buat ka kadut
Kita labang dahulu di higa timbukan
Mun basah kaina mangacambah
Jagai labangan, jagai labangan…
Bursia dipatuk hayam
Bursia hujan

Malam ini kita gumba
Ingatakan, ingatakan…
Barang baparai dahulu tarawih di langgar
Barapa kadut kulihan, barapa kadut kulihan?

Jangan kalumpanan maandak ranggaman
Kubui ha awak sakira kada miang
Baisukan isuk kita mangatam pulang…

Puntik Dalam, 16 Agustus 2011

Jadi Prajurit


“Kita diserang!”
“Kita akan mati konyol!”

“Benar panglima.”
“Panglima, izinkan kami menghadapi mereka di luar! Haram manyarah!”
“Allaaaahu akbar!”

Cuma lima dialog itu sebenarnya yang harus kuhapalkan sebagai prajurit 2 (bahkan dua dialog pertama diteriakkan dari luar panggung), namun bagi orang yang belum pernah sekali-kali tampil di teater sepertiku ini, lima dialog tersebut rasanya seperti jawaban-jawaban yang harus dilontarkan untuk menanggapi pertanyaan malaikat Raqib dan ‘Atid! Lanjut membaca

Pribahasa Banjar (mun kawa tambahiakan)

1. Handak bangkung langsat tadapat bangkung durian (ingin isteri yang cantik yang didapat isteri yang jelek)
2. Di banua saurang kaya macan, di banua urang kaya acan (beraninya cuma di lingkungan sendiri)
3. Kaya burung bilatuk manabuk luang (orang yang kerja keras)
4. Kaladi maucap birah (mencerca orang yang lebih itnggi martabatnya)
5. Sudah tacalubuk kadua balah batis (terlambat) Lanjut membaca